Internasional

Pesimis Deal Dagang, China Tunggu Trump Lengser?

Market - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
19 November 2019 06:25
Pesimis Deal Dagang, China Tunggu Trump Lengser?
Jakarta, CNBC Indonesia- Setelah sehari diwarnai optimisme karena perwakilan AS-China memberi berita positif soal perang dagang, kali ini berita pesimis datang lagi.

Sebagaimana dikutip CNBC International dari narasumber pemerintah, mood Beijing kini tidak bagus terkait perang dagang.


Presiden Xi Jinping dikabarkan pesimis Presiden AS Donald Trump, akan menghapus semua tarif, yang diminta China.


"Mood Beijing terkait deal dagang sangat pesimis. China kecewa setelah Trump mengatakan tidak ada tarif yang ditarik," tulis reporter CNBC International Eunice Yoo.

"Strategi sekarang adalah menunggu proses pemakzulan (impeachment), (dan) pemilu AS."

Perang dagang sudah terjadi sekitar 18 bulan. Keduanya saling balas menaikkan tarif impor untuk barang-barang masing-masing.

Selama itu pula maju mundurnya hubungan Beijing dan Wahington mempengaruhi pasar keuangan dan membuat ketidakstabilan global. Ujung-ujungnya, perang dagang ini membuat ekonomi dunia melambat.


Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan perlambatan terjadi hampir di 90% kawasan di dunia. IMF pun memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2019 menjadi 3% di Oktober lalu, dari sebelumnya 3,3% di April dan 3,5% di Januari.

Perang dagang membuat ekspor sejumlah negara tertekan. Banyak negara menunjukan penurunan produk domestik bruto (PDB) di sepanjang kuartal III-2019 ini.

Sebelumnya, pekan lalu, pemerintah China sempat mengatakan pembicaraan dagang kedua negara sangat konstruktif. Namun sayangnya, tidak ada detail lain yang dipaparkan ke publik.

Penasehat Gedung Putih Larry Kudlow juga mengatakan kesepakatan "fase pertama" sudah dekat. Tapi, sama seperti China, tidak ada realisasi lebih lanjut yang dilakukan.

Sementara itu, dari dalam negerinya Presiden AS Donald Trump memang tengah menghadapi upaya pemakzulan karena skandalnya dengan Presiden Ukraina. Trump menghadapi ketidakpercayaan dari DPR AS, karena menyalahgunakan kekuasaan untuk menyingkirkan saingannya Joe Biden dalam Pemilu AS 2020 nanti.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading