Terungkap! Ini Penyebab Masalah Kronis di Bank Muamalat

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
15 November 2019 09:57
Bank Muamalat dinilai terlalu fokus pada pendanaan korporasi yang mengakibatkan pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF). Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki
Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pengamat pasar modal menilai permasalahan yang dialami PT Bank Mualamat Indonesia Tbk timbul karena kesalahan dalam menjalankan strategi bisnis perusahaan.

Bank Muamalat dinilai terlalu fokus pada pendanaan korporasi yang mengakibatkan pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) bank syariah pertama di Indonesia tersebut meningkat tajam.

Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menjelaskan kesalahan strategi tersebut disebabkan oleh kesalahan pemilihan strategi bisnis.

"Harusnya Muamalat lebih fokus ke ritel bukan korporasi. Indonesia mayoritas atau hampir 90% penduduknya Muslim, strategi bisnisnya harusnya ke sana. Jadi dari awal sudah salah strategi," kata Janson, saat berbincang dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia, Jumat (15/11/2019).

Jason menambahkan selama ini, Bank Muamalat banyak menyalurkan pembiayaan untuk korporasi, seperti ke produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Selain itu, Bank Mualamat banyak menyalurkan pembiayaan di sektor pertambangan.

Begini Pasar Menilai Kondisi Bank Muamalat
[Gambas:Video CNBC]


Upaya penyelamatan Bank Muamalat sedang menjadi fokus banyak pihak, termasuk pemerintah. Sejak 2015, bank syariah pertama di Indonesia ini dirundung masalah kekurangan modal dan pemegang saham lama enggan menyuntikkan dana segar.

Puncaknya terjadi pada 2017. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) turun menjadi 11,58%. Angka itu masih dalam batas aman namun dalam konsesi Basel III untuk CAR minimal 12% guna menyerap risiko countercyclical.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa Countercyclical Buffer adalah tambahan modal yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) untuk mengantisipasi kerugian apabila terjadi pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan yang berlebihan sehingga berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Kinerja Bank Muamalat tergerus lonjakan pembiayaan bermasalah atau NPF di mana levelnya sempat di atas 5%, lebih tinggi dari batas maksimal ketentuan regulator.


Dalam laporan keuangan perseroan, periode Januari-Agustus 2019, laba bersih Bank Muamalat tercatat hanya mencapai Rp 6,57 miliar.

Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya (Januari-Agustus 2018), laba bersih perusahaan mencapai 110,9 miliar. Dalam 8 bulan pertama tahun 2019, laba bersih perusahaan anjlok hingga 94,1% secara tahunan.

Laba bersih yang hanya senilai Rp 6,57 miliar tersebut merupakan perolehan laba bersih terendah dalam 8 bulan pertama yang pernah dicatatkan oleh Bank Muamalat, setidaknya dalam 4 tahun terakhir.

Ambruknya laba bersih perusahaan terjadi seiring dengan tekanan terhadap pos pendapatan utama perusahaan.

Dalam periode Januari-Agustus 2019, pendapatan penyaluran dana ambruk sebesar 17% menjadi Rp 1,9 triliun, dari yang sebelumnya Rp 2,3 triliun pada periode Januari-Agustus 2018.

Pendapatan penyaluran dana yang hanya senilai Rp 1,9 triliun tersebut juga merupakan perolehan terendah dalam 8 bulan pertama yang pernah dicatatkan oleh Bank Muamalat, setidaknya dalam 4 tahun terakhir.

Dengan kinerja keuangan seperti, suntikan modal dikhawatirkan tak akan mampu memutarbalikkan kondisi Bank Muamalat.

Suntikan modal dikhawatirkan hanya akan mampu memperpanjang nafas dari Bank Muamalat, sembari menggerogoti suntikan modal itu sendiri, yang santer diberitakan akan disalurkan oleh bank BUMN.

Jasnon membenarkan, bahwa suntik modal saja tidak cukup untuk membenahi kinerja Bank Muamalat. "Sebenarnya solusinya tidak hanya suntik modal saja. Itu pekerjaan gampang. Tapi yang penting ubah bisnis model, dari korporat ke ritel," tambah Janson.

Selain itu, untuk mengatasi NPF yang menggerus permodalan, menurut Jason, bisa minimalisir melalui aset swap dengan sekuritisasi. "Tapi tentu ini akan merugikan kepentingan pemegang saham," ujar Jason.

Selain itu, kalaupun pembiayaan bermasalah dari Bank Muamalat disekuritisasi untuk kemudian dijual ke bank BUMN, hal ini juga tentu akan membawa mereka menghadapi risiko. Pasalnya, tak ada jaminan bahwa pembiayaan bermasalah tersebut bisa direstrukturisasi dan memberikan nilai tambah bagi pembelinya.
Artikel Selanjutnya

OJK: Calon Investor Muamalat Wajib Siapkan Dana di Escrow


(hps/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading