Merger-Akuisisi Ramai, 4 Sektor Ini Seksi di Mata Asing

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
12 November 2019 06:57
Merger-Akuisisi Ramai, 4 Sektor Ini Seksi di Mata Asing

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga konsultan global, E&Y memprediksi empat sektor di luar perbankan akan menjadi target merger dan akuisisi (M&A) yang menarik minat investor global baik investor strategis maupun private equity untuk masuk membenamkan dana dan keahliannya di pasar Indonesia.

Sebanyak empat sektor tersebut yakni health care, life and science, teknologi, m
edia dan hiburan, dan pendidikan. Bahkan media dan entertainment menjadi kejutan karena baru masuk dalam deretan sektor yang potensial jadi target merger dan akuisisi.

Partner Transaction Advisory Services
E&Y, Iwan Margono mengungkapkan empat sektor tersebut masuk dalam Global Capital Confidence Barometer yang dirilis E&Y secara global, hasil dari wawancara dengan setidaknya 3.000 eksekutif perusahaan di seluruh dunia.

"Jadi kami baru saja menyelesaikan Global Capital Confidence Barometer 2019 ini, hasilnya 3-4 industri yang menarik untuk merger dan akuisisi. Menariknya, industri-industri ini, again [sekali lagi], berkaitan dengan disrupsi digital ekonomi," kata Iwan, dalam talkshow Closing Bell, dikutip pada Selasa (12/11/2019).


Iwan mengatakan bahwa media dan hiburan memang masuk dalam daftar tersebut. Masuknya sektor ini karena terkait dengan perubahan karakter masyarakat dalam mengkonsumsi konten media sehingga prospek bisnisnya mulai dilirik investor.

"Ini [media dan entertainment] lumayan mengejutkan. Memang penonton atau pembaca kita berbeda, bahkan 5 tahun lalu, sudah berbeda, dulu melihat televisi, sekarang mungkin sudah berbeda. Potensi yang bisa digarap yakni lebih dari 250 juta penduduk.

Mengacu data resmi Global Capital Confidence Barometer, terbitan Oktober 2019, edisi ke-21, disebutkan bahwa media dan hiburan juga berada di urutan pertama daftar sektor unggulan yang jadi target M&A, setelah itu sektor jasa keuangan dan berikutnya teknologi.


Di China, masih dari data E&Y, media dan hiburan juga masuk di urutan ke-2, setelah life science, dan setelah itu teknologi. Di Inggris, nomor satu yakni life science, lalu teknologi dan consumer. Sementara di Jerman, nomor satu yakni jasa keuangan, lalu otomotif dan transportasi serta life science.

Adapun negara Asia yang masuk 10 besar destinasi merger dan akuisisi yakni China (urutan 4), India (7), Jepang (9), Singapura (10), sementara AS masih berada di urutan pertama. 

Sebanyak tiga alasan mengapa sektor ini bisa potensial yakni perusahaan media dan hiburan terus beroperasi di pasar yang terus bertransformasi, didorong oleh perubahan dalam konsumsi konten. Kedua, tingginya persaingan untuk konten - dan fasilitas produksi dan bakat kreatif yang memproduksinya. Dan ketiga sektor layanan data dan informasi akan terus aktif.

Perbankan
Di luar potensi bisnis dari empat sektor tersebut, perbankan masih memiliki potensi merger dan akuisisi terutama bank-bank papan menengah dan kecil. Adapun bank dengan modal besar, belum masuk kategori urgen untuk melakukan merger dan akuisisi.


Terakhir,  PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada akhir Oktober silam juga merampungkan akuisisi PT Bank Royal Indonesia. Bank ini digadang-gadang disiapkan BCA menjadi bank digital dari sebelumnya hanya menyalurkan kredit ke sektor UMKM.

"Contoh BCA, mereka masih ada insentif untuk beli Bank Royal yang akan dijadikan bank digital UMKM.

E&Y berharap ada inisiatif dari bank-bank kelas kecil yakni Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 1 (modal inti Rp 100 miliar hingga Rp 1 triliun) dan bank BUKU 2 (modal inti antara Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun) untuk berkonsolidasi.

"Kita lihat juga bank BUKU 1 dan BUKU 2, walaupun tanpa himbauan [Otoritas Jasa Keuangan/OJK], dengan bertambahnya modal, harusnya mereka lebih efektif, efisien. Ini kan himbauan [OJK], harapannya pasar bisa memaksa mereka [untuk merger dan akuisisi]," tegasnya.


"Bank bank besar belum urgen, level urgency udah mulai yang bank kecil, agar bisa lebih besar dan lebih efisien, move ke digital dalam menghadapi pasar," katanya.

Hanya saja Iwan menegaskan, kendati potensi besar untuk asing masuk, dia berharap investor yang masuk tak hanya suntikan dana tetapi keahlian dalam mendorong geliat ekonomi dalam negeri. '[Investor] masuk harapannya enggak cuma masuk capital, tapi know how-nya untuk memajukan industri."


Simak proyeksi bank di 2020 dari Deutsche Bank

[Gambas:Video CNBC]

 

(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading