AS Bantah China, Harga Minyak Mentah Turun Naik

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
09 November 2019 18:11
AS Bantah China, Harga Minyak Mentah Turun Naik Foto: Ilustrasi: Labirin pipa dan katup minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve di Freeport, Texas, AS 9 Juni 2016. REUTERS / Richard Carson / File Foto
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah berhasil mencatat penguatan di pekan ini, meski sempat terancam membukukan pelemahan setelah sempat merosot pada perdagangan Jumat. Kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang mengalami pasang surut membuat harga minyak mentah turun naik.

Minyak mentah jenis Brent mengakhiri perdagangan Jumat kemarin di level US$ 62,51/barel, menguat 0,35% di pasar spot. Sebelumnya berhasil menguat, Brent sempat anjlok 2,62% ke level US$ 60,66/barel.





Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) Jumat kemarin berhasil menguat 0,16% di level US$ 57,24/barel, meski sempat merosot 2,43%. Sepanjang pekan ini WTI menguat 1,86%.

Pergerakan turun naik pada Jumat kemarin dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai pembatalan bea masuk yang sebelumnya dilontarkan China.



Trump menegaskan bahwa dia belum setuju untuk membatalkan tarif barang-barang China.

"Mereka [China] ingin mengalami kemunduran [kesepakatan]. Saya belum menyetujui apa pun [soal tarif]," katanya kepada wartawan sebelum meninggalkan Gedung Putih dalam perjalanan ke Georgia.

"[Langkah] China ini sedikit kemunduran, bukan kemunduran total karena mereka tahu saya tidak akan melakukannya [pembatalan tarif]," tegasnya dikutip CNBC International

Sebelumnya pada Kamis (7/11/19) lalu China menyatakan kedua negara setuju untuk membatalkan beberapa bea masuk. Mengutip CNBC International, Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengatakan baik AS maupun China setuju untuk mambatalkan rencana pengenaan berbagai bea masuk. Perundingan yang konstruktif dalam dua pekan terakhir membuat kedua negara sudah dekat dengan kesepakatan damai dagang fase I.

Namun, Reuters memberitakan penghapusan bea masuk menimbulkan pertentangan di internal pemerintahan AS. Beberapa sumber mengungkapkan bahwa terjadi penolakan terhadap rencana tersebut.

"Tidak ada kesepakatan yang spesifik soal pencabutan bea masuk. Pihak AS masih bersikap ambigu, sementara China memang sangat berharap (penghapusan bea masuk) bisa terwujud," tegas Michael Pillsbury, penasihat Presiden Trump yang berada di luar pemerintahan.

Peter Navarro, Penasihat Perdagangan Gedung Putih, juga menegaskan bahwa belum ada kesepakatan soal penghapusan bea masuk. Dia menilai China melakukan klaim sepihak.



"Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai pencabutan bea masuk sebagai syarat ditandatanganinya perjanjian damai dagang fase I. Mereka (China) mencoba bernegosiasi di ruang publik," tegas Navarro dalam wawancara bersama Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters.

Bantahan AS tersebut akhirnya dikuatkan oleh Presiden Trump Jumat waktu setempat. Meski demikian pelaku pasar masih tetap optimis kedua negara pada akhirnya akan menandatangani kesepakatan dagang. 

AS dan China merupakan dua negara konsumen minyak mentah terbesar di dunia. Perekonomian kedua negara sedang melambat akibat perang dagang. Pelambatan ekonomi tentunya berdampak pada penurunan permintaan minyak mentah, sehingga kesepakatan dagang kedua negara memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan minyak mentah.

[Gambas:Video CNBC]


TIM RISET CNBC INDONESIA  (pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading