Pak Jokowi, Bank Sulit Turunkan Bunga! Ini Alasannya

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
07 November 2019 14:18
Pak Jokowi, Bank Sulit Turunkan Bunga! Ini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar perbankan nasional menurunkan suku bunga kredit tampak tak mudah. Terdapat sejumlah kondisi yang membuat bank-bank Indonesia sulit menurunkan suku bunga kredit.

Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Aviliani mengatakan perbankan nasional saat ini sedang menghadapi tantangan adanya potensi peningkatan kredit macet (non performing loan/NPL).

Bank harus meningkatkan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) jika NPL industri perbankan meningkat. "Penurunan suku bunga belum bisa di-eliminir oleh perbankan karena bank harus meningkatkan CKPN, untuk kredit macet. Kalau kredit macet tinggi itu-kan membutuhkan biaya lagi, otomatis bank harus menjaga keuntungan," kata Aviliani saat berbincang dengan CNBC Indonesia.

Cara bank menjaga keuntungan, kata Aviliani, adalah meningkatkan penyaluran kredit atau menaikkan suku bunga kredit. Namun untuk meningkatkan penyaluran kredit hampir tidak mungkin, pasalnya pertumbuhan kredit nasional saat ini hanya sekitar 7%.


"Jadi bank tidak mungkin menurunkan suku bunga," ujar Aviliani.

Saat ini, Net Interest Margin (NIM) perbankan Indonesia juga sudah semakin tipis. Saat ini NIM perbankan Indonesia sekitar 4%-5%, turun dibandingkan beberapa waktu lalu yang sempat mencapai 6%.

"Itu tidak semua bank bisa mencapai NIM sebesar itu, tiap bank beda-beda. Kita punya kategori bank-bank BUKU I, II, III dan IV. Sekarang Bank BUKU III, LDR (loan to deposit ratio) sudah sangat tinggi, di atas 100%. Artinya mereka sudah kesulitan dana," kata Aviliani.

Dengan kondisi seperti ini, sulit bagi bank BUKU III untuk memberikan suku bunga murah. Sumber pendanaan bank-bank tersebut pasti mahal, otomatis kredit yang disalurkan akan dikenakan bunga tinggi.

Permintaan Jokowi menurunkan bunga kredit tersebut sontak membuat harga saham-saham bank besar terkoreksi sejak awal pembukaan perdagangan. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, hingga sesi I harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 4,57% ke level 3.970/unit.

Lalu saham PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) turun 3,02% ke harga Rp 1.285/unit. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 2,33% ke level Rp 7.325/unit.

Saham PT Bank Mandiri Tbk turun 2,15% menjadi Rp 6.825/unit, saham PT Bank Danamon Tbk turun 1,43% ke harga Rp 4.150/unit dan PT Bank CIMB Niaga turun 1,03% ke level harga Rp 960/unit.

Koreksi harga saham bank tersebut, membuat indeks sektor keuangan terkoreksi 1,79%. Koreksi terdalam kedua dari 10 indeks sektoral yang terdaftar di BEI.

Kemarin, Rabu (22/11/2019), saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi pembicara kunci dalam acara Indonesia Banking Expo 2019, sempat meminta pelaku industri perbankan menurunkan suku bunga kredit.

Jokowi Bicara Soal Bunga Bank yang Tinggi
[Gambas:Video CNBC]


Dalam acara tersebut, Jokowi memberikan empat pesan khusus kepada para pemimpin industri perbankan. Pertama, Jokowi meminta industri perbankan untuk meningkatkan literasi keuangan dalam meningkatkan akses kepada UMKM.

Kedua, Kepala Negara juga meminta kepada bank untuk tidak hanya menyalurkan kredit ke korporasi besar saja. Namun harus ke sektor usaha kecil.

"Ketiga, saya mengajak untuk memikirkan secara serius untuk menurunkan suku bunga kredit," tegas Jokowi di Hotel Fairmont, Rabu (6/11/2019).

Menurut Jokowi, negara lain sudah menurunkan bunga kreditnya termasuk juga Bank Indonesia yang telah menurunkan bunga acuannya.

"Ini saya tunggu," tegas Jokowi. (hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading