Jokowi Minta Bunga Kredit turun, Hal Ini akan Dialami Bank RI

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
10 November 2019 12:05
Jokowi Minta Bunga Kredit turun, Hal Ini akan Dialami Bank RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank BUMN diprediksi akan mendapatkan tekanan lebih besar untuk menurunkan suku bunga kreditnya dibanding bank swasta, menanggapi permintaan penurunan bunga oleh Presiden Joko Widodo kepada perbankan.

"Kami menilai mayoritas tekanan akan menimpa bank-bank BUMN, dibanding bank swasta," ujar Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Lee Young Jun, dalam risetnya (7/11/19).

Lebih lanjut, dia membenarkan keluhan Jokowi terhadap perbankan, di mana belum ada bank besar yang menurunkan suku bunga kreditnya setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan 7DRRR tahun ini sebesar 100 bps (1%) menjadi 5% pada Oktober kemarin. Secara detail, Young Jun memiliki dua skenario terhadap potensi dampak dari permintaan penurunan tersebut.



Skenario
pertama, jika bank BUMN mengejawantahkan dan merealisasikan penurunan suku bunga seperti yang diminta dalam waktu dekat, maka rerata bunga kredit perbankan secara luas akan lebih cepat dibandingkan dengan prediksi.

Hasilnya tentu akan berdampak pada penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tanpa adanya pertumbuhan kredit yang akan menyeimbangkan kinerja, karena ketatnya likuiditas sistem keuangan.

NIM adalah ukuran perbedaan antara bunga pendapatan yang dihasilkan oleh bank dan nilai bunga yang dibayarkan kepada pemberi pinjaman mereka (misalnya, deposito), relatif terhadap jumlah mereka (bunga produktif) aset.

Penurunan kualitas NIM tersebut diprediski akan mulai terjadi pada awal 2020, dari prediksi awal pada pertengahan tahun depan. Di sisi lain, pertumbuhan kredit akan relatif sama di mana Mirae Asset memprediksi pertumbuhan kredit industri 2020 akan berada pada 9%-11% karena ketatnya likuiditas.

Dengan skenario tersebut, tim riset Mirae Asset menilai PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan paling diuntungkan dibanding bank lain dengan penyebab:
  1. Tekanan penurunan suku bunga terhadap bank swasta akan lebih ringan.
  2. Berdasarkan survei internal Mirae Aset, BCA sudah menurunkan suku bunga kredit pada beberapa segmen dibandingkan dengan pesaingnya.
  3. BCA masih memiliki ruang penurunan suku bunga penyaluran kredit dengan menurunkan beban pendanaan (credit cost).

Skenario kedua. Young Jun memprediksi kondisi masih akan seperti sekarang, di mana bank-bank akan lambat menurunkan suku bunga. Hal itu dengan melihat fakta bahwa arah dari suku bunga perbankan tidak seperti yang dideskripsikan Jokowi.

Dengan melihat fakta bahwa ketika tren bank sentral menaikkan suku bunga (April 2018-Juni 2019), rerata suku bunga kredit turun 0,2%, sedangkan kenaikan suku bunga BI dilakukan 1,75% atau berarti 175 bps.

Setelah itu, rerata suku bunga penyaluran kredit relatif tetap flat dengan penurunan -2 bps pada Juni-Agustus, ketika BI menurunkan lagi suku bunga acuan 7DRRR sebesar 50 bps.



Dengan asumsi perbankan masih belum menurunkan suku bunga kreditnya sepanjang September-Oktober tahun ini, ketika BI menurunkan suku bunganya 50 bps, rerata total pergerakan bunga kredit periode April 2018-Oktober 2019) hanya -0,24%. Besaran itu sangat jauh dari penyesuaian bunga BI yaitu +75 bps.

Detik-detik Saat Jokowi Minta Bunga Kredit Bank Turun
[Gambas:Video CNBC]

Karena itu, penyesuaian bunga kredit bank dinilai oleh Mirae Asset Sekuritas masih dalam kisaran yang sesuai, dan karenanya skenario kedua tersebut dinilai akan lebih mungkin terjadi.

Dengan demikian, Young Jun dan tim riset perusahaan efek tersebut masih tidak mengubah prediksi dan asumsi pada sektor perbankan, serta masih menjadikan BCA dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebagai pilihan utama (top picks) di sektor perbankan.


Saat ini, rekomendasi BCA masih ditetapkan pada BUY dengan TP Rp 38.500/saham dan BRI masih disematkan rekomendasi Trading BUY dengan TP Rp 5.100/saham.

Jumat kemarin, saham BCA ditutup turun ketika tutup perdagangan sebesar 0,1% menjadi Rp 31.400/saham dan membentuk kapitalisasi pasarnya Rp 766,42 triliun, sedangkan BRI turun 0,25% menjadi Rp 3.990/saham dan membentuk kapitalisasi pasarnya Rp 487,22 triliun.

Tim riset Mirae Asset memprediksi pertumbuhan kredit pada 2020 akan tetap moderat, dan beban pendanaan diprediksi akan meningkat (karena implementasi perubahan akuntansi IFRS:9), likuiditas yang ketat, dan perbaikan NIM hanya akan terjadi dalam jangka pendek pada 2020.


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading