IPO Terbesar Sejagat, Kok Pada Tak Yakin dengan Saudi Aramco?

Market - Wangi Sinintia Mangkuto, CNBC Indonesia
05 November 2019 12:44
IPO Terbesar Sejagat, Kok Pada Tak Yakin dengan Saudi Aramco?
Jakarta, CNBC Indonesia - Saudi Aramco akhirnya mendapat restu mencatatkan saham di bursa melalui penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Namun rencana tersebut dipandang sebelah mata oleh beberapa analis dan mengingatkan investor agar hati-hati sebelum membeli saham Saudi Aramco di pasar perdana.

Satu hal yang menjadi menjadi catatan pada analis adalah bursa tempat Saudi Aramco mencatatkan saham. Menurut rencana IPO perusahaan yang paling menguntungkan di dunia ini berencana mencatatkan saham di The Saudi Stock Exchange Tadawul yang merupakan bursa saham Kerajaan Arab Saudi, pada Desember mendatang. 


Namun kurangnya ketebukaan informasi terkait rencana IPO tersebut membuat beberapa analis bersikap dingin seperti di lansir dari CNBC International. Dan mereka percaya ada banyak alasan mengapa investor internasional harus waspada.


Berikut adalah 4 alasan mengapa analis harus berhati-hati dengan IPO Saudi Aramco.

Informasi Tak Rinci
Aramco mengatakan bahwa "harga penawaran akhir, jumlah saham yang akan dijual dan persentase saham yang akan dijual akan ditentukan pada akhir periode book-building." Prospektus IPO perusahaan akan dirilis pada 9 November.

Dengan demikian, para analis dibiarkan berspekulasi terhadap rencana penawaran, dan ini dapat membuat perbedaan bagi minat investor, kata mereka.

"Ya, itu (IPO) telah dikonfirmasi, tetapi pada saat ini mereka belum benar-benar memberi kami kapan jadwal transaksi akan berlangsung atau selesai," David Lennox, analis sumber daya di Fat Prophets, sebagaimana dilansir dari CNBC Internasional, Selasa (05/11/2019).

Laporan sebelumnya menyatakan, kerajaan akan mendaftarkan 1% hingga 2% saham Aramco di bursa saham lokalnya, dan kemudian akan mendaftarkan yang lain di bursa internasional, dengan total penjualan publik sekitar 5% dari perusahaan. Bursa yang jadi pilihan bisa di New York, London, Hong Kong, dan Tokyo semuanya telah bersaing untuk pendaftaran internasional.

Lennox menambahkan, valuasi itu dapat berbeda bagi setiap investor. "Kami belum bisa memberikan valuasi, (meskipun) kami telah melihat angka yang cukup besar dari US$ 1 triliun hingga US$ 2 triliun. Kami pikir ini sekitar US$ 1,4 triliun sehingga anda dapat memilih," katanya.

"Faktor lain yang tidak kita ketahui saat ini adalah, seberapa banyak yang akan mereka daftarkan? ... Jadi ada banyak pertanyaan yang belum kami jawab, sebelum orang dapat mengatakan kami akan melihat IPO ini berjalan, "katanya.

Soal Dividen
IPO Aramco memang dinanti dalam beberapa tahun terakhir, tetapi telah ditunda di tengah volatilitas harga minyak, ketidakpastian valuasi, lokasi daftar saham dan peristiwa geopolitik, seperti serangan drone dan rudal pada September lalu.

IPO Aramco dapat menjadi yang terbesar di dunia, dan jika itu mencapai valuasi sebesar US$ 1,5 triliun. Nilai kapitalisasi Saudi Aramco berpotensi melebihi kapitalisasi pasar raksasa seperti Apple dan Microsoft.

Perusahaan mengatakan, salah satu prioritasnya adalah memberikan "dividen yang berkelanjutan dan tumbuh melalui siklus harga minyak mentah" dan "tunduk pada kebijaksanaan dewan setelah mempertimbangkan sejumlah faktor, dewan bermaksud untuk mendeklarasikan dividen tunai agregat setidaknya US$ 75,0 miliar sehubungan dengan tahun kalender 2020, selain potensi dividen khusus."

Sejauh mana dividen akan dibagikan akan tergantung pada jumlah saham perusahaan yang ditetapkan untuk dilepas ke publik. "Kami mendapat jumlah dividen, tetapi kami tidak tahu jumlah sahamnya," kata Lennox, mencatat bahwa "jika mereka menerbitkan beberapa jumlah saham maka jumlah dividen itu tidak akan jauh."

Sementara itu, analis di Bernstein mencatat bahwa sulit untuk mengevaluasi perusahaan seperti Aramco, yang disamakan dengan perusahaan "minyak rakasa".


Mereka mengutip fakta bahwa Saudi Aramco adalah perusahaan paling menguntungkan di dunia, pada 2018 laba bersihnya mencapai US$ 111 miliar, lima kali lebih besar dari Exxon atau Shell. Para analis juga mencatat, Aramco memiliki masa cadangan minyak 52 tahun, dan cadangannya adalah yang termurah untuk diekstraksi.

"Nilai wajar bagi perusahaan dengan akses ke 201 miliar barel cadangan minyak terbukti, menghasilkan 1 di setiap 8 barel minyak global, berperan penting dalam mendukung harga minyak, dan memiliki sistem Downstream terintegrasi terbesar ke-4 di dunia. Sementara kita terbiasa menilai Big Oil, Aramco adalah Monster Oil, jadi ini benar-benar pertanyaan triliun dolar," Analis Senior Bernstein Oswald Clint dan Neil Beveridge mengatakan dalam sebuah catatan.

Faktor Geopolitik
Faktor-faktor geopolitik, seperti Arab Saudi yang bersitegang dengan Iran, juga dapat meredam sentimen investor.

"Jika anda melihatnya dari perspektif investor internasional, jelas ada kekhawatiran," kata Bob Parker, anggota komite investasi di Quilvest Wealth Management, kepada CNBC's "Squawk Box Europe", Senin.

"Apakah anda ingin berinvestasi di wilayah di mana hubungan dengan Iran kurang baik?" tanyanya. "Kami juga memiliki risiko infrastruktur terkait (serangan drone dan rudal) beberapa bulan yang lalu, dan sebagian besar infrastruktur Saudi Aramco sedang rusak."

Selain itu, Parker mengatakan valuasi mungkin juga menjadi faktor yang menambah kekhawatiran investor internasional.

"Investor internasional mungkin mengatakan baik, mungkin saya perlu diskon untuk menjamin investasi saya di Saudi Aramco. Tapi diskon itu sepertinya tidak ada," katanya. Parker menambahkan bahwa dia juga percaya harga minyak akan mengalami tekanan ke bawah.

"Semua faktor yang saya pikir, berarti bahwa ini akan menjadi IPO yang sulit," katanya.

Harga minyak
Harga minyak jatuh pada pertengahan 2014, di tengah melimpahnya pasokan global dan permintaan yang kurang memuaskan. Harga turun secara dramatis dan produsen minyak utama dunia seperti Arab Saudi, dan produsen OPEC lainnya memutuskan untuk mengurangi produksi guna membantu menstabilkan pasokan dan permintaan, dan juga harga.

Sementara itu, produsen serpih AS belum mengurangi produksi, dan masih ada kekhawatiran tentang dinamika pasokan dan permintaan, terutama di tengah perang perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan China yang menghambat pertumbuhan global. Pada Senin, harga minyak diperdagangkan pada US$ 62,22 per barel untuk minyak mentah Brent dan US$ 56,62 untuk West Texas Intermediate (WTI).

Analis seperti Fat Prophets 'David Lennox merasa, bahwa IPO bisa datang terlambat, "Kami pikir IPO ini mungkin terlambat beberapa tahun. Anda sekarang telah berada di AS, sebuah pesaing mapan yang memproduksi 12 juta barel minyak sehari, sedangkan beberapa tahun yang lalu itu belum ada," kata Lennox.

"Ada banyak pertanyaan yang harus kita perhatikan dan lihat," tambahnya.

IPO Jadi Tonggak Sejarah Bagi Saudi Aramco
[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading