Kisah Lem Aibon di DKI, Ternyata Sahamnya Tercatat di Tokyo

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
01 November 2019 14:13
Kisah Lem Aibon di DKI, Ternyata Sahamnya Tercatat di Tokyo

Jakarta, CNBC Indonesia - Lem Aica-Aibon lagi masuk trending topic di Tanah Air. Ini gara-gara nama lem yang cukup terkenal di Indonesia ini masuk dalam cikal bakal anggaran Pemprov DKI Jakarta.

Pasalnya, ada sejumlah usulan anggaran yang dianggap tidak wajar, s
alah satunya adalah anggaran Rp 82,8 miliar untuk pembelian lem merek Aica-Aibon. Anggaran sebesar itu dibongkar oleh Anggota Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Jakarta William Aditya Sarana, sebagaimana dikutip detiknews.

Selain lem Aibon, Rencana Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS)
DKI Jakarta 2020 yang terungkap ke publik juga mencakup anggaran pulpen yang mencapai Rp 635 miliar.


Kendati anggaran pembelian lem tersebut sudah dihapus dari usulan, tapi sebenarnya siapa pemilik lem Aibon ini? Apakah hanya ada di Indonesia, perusahaan apakah yang memproduksi lem legendaris ini?


Mengutip situs resmi Aica.co.id, lem aibon atau Aica Aibon adalah perekat multiguna yang terbuat dari karet sintetis dan pelarut organik. Lem ini tersedia dalam toluena (cairan bening tak berwarna yang tak larut dalam air dengan aroma seperti pengencer) dan non-toluena, cat dan semprotan. Aica Aibon adalah cairan perekat berwarna kuning yang kemasannya identik juga dengan warna kuning.

Lem ini sebenarnya berasal dari Jepang yang diproduksi pertama kali masuk Indonesia pada tahun 1974 di bawah PT Aica Indonesia. PT Aica Indonesia ini dimiliki oleh keluarga Wanandi. Perusahaan ini punya dua pabrik yakni di Juanda Bekasi, dan Kawasan Industri Indotaisei (Kota Bukit Indah, Kalihurip, Cikampek, Karawang).


Aica Indonesia didukung dengan teknologi Jepang dari Aica Kogyo Japan selama lebih dari 35 tahun, Aica Kogyo Japan adalah salah satu perusahaan asal Jepang yang mengklaim sebagai pemimpin pasar untuk produk utama lem tipe HPL (High Pressure Laminate) dan perekat.

Aica Kogyo tak hanya ekspansi ke Indonesia, tapi juga ke China, Korea, Taiwan, Malaysia, Singapura. Situs resmi induknya, Aica Kogyo Co., Ltd, mencatat perusahaan ini didirikan pada tahun 1936 dengan nama Aichi Kagaku Kogyo Co., Ltd, ketika divisi bahan kimia dari Aichi Tokei Denki Co., Ltd. dipisah sebagai perusahaan independen.

"Kami telah memanfaatkan keahlian inti kami dalam teknologi plastik untuk tumbuh dan berkembang sebagai perusahaan yang terlibat dalam bahan, desain, dan teknologi dalam bidang bisnis yang semakin meningkat, mulai dari bahan kimia dan kini termasuk bahan arsitektur, bahan perumahan dan bahan khusus," kata 
Representative Director & President Aica Kogyo Co, Yuji Ono, di situs resmi perusahaan.

Di Shanghai, China, perusahaan memiliki anak usaha Aica Trading (Shanghai) Co., Ltd, lalu di Taiwan, ada Taiwan Aica Kogyo Co.,Ltd, dan Indonesia ada Aica Indonesia. Selain Aica, mereka juga punya anak usaha lain di Indonesia yakni PT Techno Wood Indonesia di Cikampek.


Perusahaan ini ternyata merupakan perusahaan publik alias sahamnya bisa dibeli oleh investor ritel, di seluruh dunia. Saham ini tercatat dengan kode 4206 di Bursa Efek Tokyo (Tokyo Stock Exchange) di sektor kimia.

Saham perusahaan, pada Jumat ini (1/11/2019), diperdagangkan di level 3.460 yen per saham atau minus 0,14% dari perdagangan Kamis kemarin. Dengan harga saham tersebut, maka harga per saham sekitar Rp 45 juta (asumsi Rp 13.000/yen Jepang). Kapitalisasi pasar perusahaan mencapai 234,20 miliar yen atau sekitar Rp 3.042 triliun.

Ini penjelasan Anis soal lem Aibon

[Gambas:Video CNBC]

 

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading