Efek Brexit! Habis Terbang Tinggi, Poundsterling Malah Anjlok

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 October 2019 20:50
Efek Brexit! Habis Terbang Tinggi, Poundsterling Malah Anjlok
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang poundsterling bergerak liar pada perdagangan Kamis (17/10/19) merespon kesepakatan Brexit antara Pemerintah Inggris dengan Uni Eropa.

Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri (PM) Boris Johnson mencapai kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa sore tadi. Dampaknya mata uang poundsterling langsung melesat 1,23% ke level US$ 1,2988, dan mencapai level tertinggi sejak 13 Mei.

Tetapi tak lama, langsung anjlok lagi ke US$ 1,2748, sebelum diperdagangkan di level US$ 1,2803, melemah 0,27% pada pukul 20:20 WIB.




CNBC International
melaporkan, pihak Inggris Raya dan Uni Eropa akhirnya mencapai kesepakatan proposal Brexit setelah berunding selama 11 jam. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, melalui akun Twitter-nya mengatakan telah "kita telah mencapai kesepakatan Brexit yang bagus", dan meminta anggota Parlemen Inggris untuk mendukung proposal tersebut saat diserahkan ke parlemen pada hari Sabtu (19/10/19).

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Junker, juga melalui akun Twitter mengatakan kesepakatan lali ini "adil dan berimbang".



Proposal Brexit tersebut kini akan dibahas pada pertemuan puncak Uni Eropa mulai hari ini hingga Jumat besok, dan harus mendapat persetujuan.

Setelah mendapat persetujuan dari Uni Eropa, proposal tersebut akan diserahkan ke Parlemen Inggris juga untuk mendapat persetujuan, sebelum akhirnya Brexit resmi dilakukan pada 31 Oktober nanti.

Meski demikian, tantangan bagi PM Johnson selanjutnya adalah meyakinkan anggota parlemen untuk mendukung proposal tersebut. Suara-suara penolakan terhadap proposal PM Boris Johnson mulai bermunculan. Partai Democratic Unionist (DUP) dari Irlandia Utara sudah menyatakan tidak bisa mendukung proposal yang dibuat PM Johnson kali ini.

DUP merupakan partai pendukung pemerintah Inggris, penolakan tersebut tentunya menjadi kabar buruk bagi PM Johnson.

Seperti diketahui sebelumnya, proposal Brexit yang disetujui oleh Pemerintah Inggris dan Uni Eropa di era PM Theresa May berkali-kali ditolak oleh Parlemen Inggris. Bahkan kala itu, pembuat proposal Brexit diambil alih oleh parlemen, dan tetap tidak menghasilkan suara mayoritas. Hal tersebut akhirnya berujung pada pengunduran diri Theresa May, dan digantikan oleh Boris Johnson.

Jika pada Sabtu nanti proposal Brexit ditolak Parlemen Inggris, PM Johnson secara legal harus mengajukan penundaan Brexit yang seharusnya terjadi pada 31 Oktober. Namun, PM Johnson berulang kali menegaskan akan membawa Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober bagaimanapun caranya. 

Dengan deadline yang semakin dekat, dan ada kemungkinan Parlemen Inggris akan menolak proposal Brexit, ketidakpastian di pasar masih sangat tinggi, dan poundsterling akhirnya anjlok lagi. 


TIM RISET CNBC INDONESIA  (pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading