Ini Deretan Harga Saham 'Tertinggi' di BEI, Berat Buat Ritel?

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
17 October 2019 13:37
Ini Deretan Harga Saham 'Tertinggi' di BEI, Berat Buat Ritel?
Jakarta, CNBC Indonesia - Wacana pemecahan nilai saham (stock split) PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tentu meningkatkan perhatian investor kepada saham-saham yang harga sahamnya tinggi secara nominal per unit.

Saham Unilever dan BCA yang masing-masing berada di Rp 45.975/unit dan Rp 30.800/unit membentuk kapitalisasi pasarnya Rp 350,78 triliun dan Rp 751,78 triliun. Sejak awal tahun, saham UNVR dan BBCA sudah naik 1,27% dan 18,46%.

Untuk membeli satu lot saham, 100 unit saham sebagai syarat minimun untuk bertransakis membeli saham, maka butuh dana Rp 4,59 juta untuk membeli saham UNVR dan Rp 3,08 juta untuk membeli saham BBCA.


Tentu nilai nominal tersebut berat untuk investor ritel, apalagi untuk investor pemula yang hanya punya modal deposito Rp 5 juta untuk mulai bertransaksi saham. Karena itu, investor ritel tentu berharap harga saham emiten yang terlampau tinggi untuk dapat dipecah dengan metode stock split.

Stock split adalah mekanisme pemecahan nilai saham yang membuat kepemilikan jumlah unit saham akan bertamnah sesuai dengan rasio yang ditetapkan manajemen emiten saham. Jika rasionya 1:2 atau 1:10, berarti 1 unit saham akan menjadi dua dan 1 unit saham akan menjadi 10, tanpa mengubah nilai kepemilikan awal investor yang sudah punya saham tersebut di dalam rekening efeknya.

Meskipun harga tinggi itu belum sekaligus mencerminkan murah-mahalnya valuasi saham perusahaan, tetapi tingginya harga saham tentu dapat mereduksi minat investor ritel kecil untuk mencicil saham tersebut ke dalam portofolionya. Valuasi murah-mahalnya sebuah saham haruslah melihat dari kinerja perseroan sekaligus harga pasarnya, apakah harganya di bursa itu lebih rendah atau lebih tinggi daripada nilai fundamental perseroan.

Selain saham UNVR dan BBCA, berikut ini adalah deretan saham yang nilai nominalnya juga termasuk tinggi di pasar, di atas Rp 20.000 per saham hingga siang ini.

Pertama, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang sahamnya paling tinggi dibanding emiten lain sepasar modal yaitu Rp 54.100/unit, sudah turun 35,34% sejak akhir 2018. Beli 1 lot saham GGRM, anda harus punya modal Rp 5,41 juta.

Harga itu turut membuat kapitalisasi pasar atau nilai perusahaan yang dipimpin Susilo Wonowidjojo itu menjadi Rp 104,04 triliun.

Produsen rokok asal Kediri (Jawa Timur) tersebut masih menjadi produsen rokok terbesar kedua di Indonesia, yaitu 78,65 miliar batang per 2017. Saat ini perusahaan sedang membangun bandara di Kota Tahu yang akan menjadi alternatif tujuan penumpang yang ingin ke Jawa Timur, selain dari Bandara Djuanda di Surabaya yang sudah mulai kelebihan volume penumpang.

Kedua, adalah saham perusahaan yang kurang populer dan kurang likuid di pasar saham yaitu PT Merck Sharp Dohme Pharma Tbk (SCPI), yang hingga siang ini tidak terbentuk penawaran dan permintaan transaksi saham tersebut di bursa. Harga saham perusahaan farmasi yang dulunya bernama PT Schering-Plough Indonesia tersebut Rp 29.000/unit dan membentuk kapitalisasi pasarnya Rp 104,4 triliun. Beli 1 lot saham SCPI, anda harus punya modal Rp 2,9 juta.

Nama perusahaan yang didirikan sejak 1967 itu diganti karena terkait dengan pergantian pemegang sahamnya di tingkat global, yang membuat entitas induk utama perseroan saat ini adalah Merck & Co Inc asal Amerika Serikat. Saat ini, perseroan dipimpin oleh George Boshra Zaki Demian.

Ketiga, PT United Tractors Tbk (UNTR) yang saat ini dipimpin oleh Loudy Irwanto Ellias merupakan sayap alat berat dan tambang dari Grup Astra. Saham perseroan saat ini berada pada Rp 20.250/unit dan membentuk kapitalisasi pasarnya Rp 75,53 triliun. Beli 1 lot saham UNTR, anda harus punya modal Rp 2,03 juta.




TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading