Gojek & Tokopedia Cs Susah IPO, BEI: Bisa Dual Listing kok!

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
14 October 2019 11:43
Gojek & Tokopedia Cs Susah IPO, BEI: Bisa Dual Listing kok!

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong perusahaan rintisan berstatus unicorn (valuasi di atas US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun) dan decacorn (valuasi di atas US$ 10 miliar atau Rp 140 triliun) untuk bisa mencatatkan saham perdana (IPO) di bursa saham domestik dan luar negeri.

Caranya ialah dengan skema dual listing atau tercatat di dua bursa efek. Skema ini dinilai lebih realistis agar dana hasil IPO bisa diserap investor.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi, mengutarakan, perusahaan berstatus decacorn bila IPO memang cukup berat bila hanya mengandalkan investor domestik, sehingga opsi dual listing bisa menjadi pilihan bagi perusahaan seperti Gojek, Tokopedia dan Bukalapak.



"Mestinya sih kalau melihat daripada listed untuk yang unicorn-unicorn memang kalau di Indonesia saja rasanya sophisticated investor mungkin masih belum. Jadi mau enggak mau ya untuk dilakukan ya dual listing. Jadi enggak di luar tapi di sini juga [listing]," kata Inarno Djajadi, Senin di Jakarta (14/10/2019).

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menyatakan, perusahaan dengan status decacorn seperti Gojek, yang menurut data The Global Union Club, valuasinya mencapai US$ 10 miliar atau Rp 140 triliun, akan sulit bila melangsungkan IPO hanya di dalam negeri, karena emisi yang ditawarkan terlalu jumbo dan bisa susah diserap investor.


"Kalau sudah decacorn susah IPO [initial public offering] di dalam negeri, susahnya kenapa dia kalau misalkan [valuasinya] US$ 10 miliar saja, kan Rp 140 triliun, kalau dia lepas 20 persen, [setara] US$ 2 miliar, 28 triliun, siapa yang mau memakan 28 triliun di dalam negeri," kata Chief RA, sapaan akrabnya di acara Kick Off Piala Presiden E-Sports 2020 di Tennis Indoor Senayan, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (13/10/2019).

Melalui dual listing, lanjut Rudiantara, investor ritel di Indonesia juga bisa ikut berpartisipasi membeli saham.

"Jadi nanti kalau ada yang listing di luar negeri, di Hong Kong, Amerika Serikat, jangan dibilang enggak nasionalis, karena di sini [BEI] memang pasarnya enggak ada yang makan. Kita dorong mereka dual listing di Indonesia, agar yang ritel masyarakat Indonesia juga bisa beli," tandas Rudiantara.

Dalam perkembangan terbaru, unicorn marketplace asal RI, Tokopedia juga menyampaikan keinginan menjadi perusahaan publik dalam beberapa tahun ke depan, kendati belum dalam waktu dekat ini.

Tokopedia, yang menurut data The Global Unicorn Club sudah bervaluasi US$ 7 miliar.

Decacorn Sulit IPO di RI, BEI: Bisa Dual Listing kokFoto: CEO Tokopedia William Tanuwijaya (REUTERS/Willy Kurniawan)


CEO dan Co-Founder Tokopedia William Tanuwijaya di Jakarta, Kamis (10/10/2019) menargetkan bisa mulai mencetak keuntungan tahun depan setelah 10 tahun terakhir mencatatkan kerugian. "Secara komitmen tahun depan kita sudah profitable. Menghadapi persaingan apapun ayo. Strateginya tahun depan harus profit," jelasnya.

Meski mengejar profit, Tokopedia belum akan melantai di bursa saham tahun depan. Alasannya, masih memiliki modal yang cukup dari dua investornya yakni SoftBank dan Alibaba.

"Harapannya dalam beberapa tahun ke depan bisa go public," ujar William seperti dikutip dari CNNIndonesia.

Sebagai catatan, CNBC Indonesia mencatat beberapa emiten juga melakukan dual listing yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang juga listing di New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE) sejak 1995.

PT Indosat Tbk (ISAT) listing di NYSE sejak 1994, kendati sudah delisting pada pertengahan 2013. Adapun PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga tercatat di Australian Stock Exchange (ASX). Di Bursa ASX ini, saham Antam diperdagangkan dalam bentuk Chess Depository Interests (CDI) di mana satu CDI mewakili 5 saham.

PT Timah Tbk (TINS) juga sempat tercatat di London Stock Exchange (LSE) meskipun 
menghapus pencatatan sahamnya (delisting) dari pada 12 Oktober 2006.

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading