Saham INDF & ICBP Melesat, Saatnya Tambah atau Profit Taking?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
14 October 2019 11:22
Saham INDF & ICBP Melesat, Saatnya Tambah atau Profit Taking?

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham duo Grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masing-masing melesat dan 23% dan 26% dalam 6 bulan terakhir perdagangan. Kendati perseroan sempat didera sentimen negatif selesainya kontrak dengan PepsiCo.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 11.04 WIB Senin ini (14/10/2019), mencatat saham INDF naik 0,98% di level Rp 7.725/saham dengan penguatan dalam 6 bulan terakhir sebesar 23%. Adapun year to date saham INDF menguat hanya 4% dengan kapitalisasi pasar INDF sebesar Rp 67,83 triliun.

Asing hari ini masuk Rp 5,31 miliar dan 6 bulan terakhir asing memborong Rp 318 miliar di semua pasar.


Di sisi lain, saham anak usahanya yakni ICBP juga naik tipis 0,22% pada perdagangan pagi tadi, kendati cenderung stagnan di level Rp 11.650/saham.


Dalam 6 bulan terakhir saham ICBP naik 26% dan year to date saham ICBP naik 11,48% dengan kapitalisasi pasar Rp 136 triliun. Asing hari ini masuk ke saham ICBP sebesar Rp 3,28 miliar di pasar reguler dan 6 bulan terakhir asing belanja (net buy) Rp 289 miliar juga di pasar reguler.

Pekan lalu, satu sentimen bagi saham Grup Salim ialah berakhirnya kontrak Pepsi dengan PT Anugerah Indofood Barokah Makmur (AIBM), anak usaha ICBP.

AIBM mendapatkan hak eksklusif dari PepsiCo Inc. dan perusahaan afiliasinya, untuk memproduksi, menjual dan mendistribusikan produk minuman non-alkohol dengan menggunakan merek-merek milik PepsiCo di Indonesia.


Selain bekerjasama dengan anak usaha ICBP, Pepsi juga berhubungan bisnis dengan PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang restoran waralaba KFC di Indonesia yang juga masuk Grup Salim. Saham FAST hari ini stagnan di level Rp 2.780/saham.

Dengan berakhirnya kontrak, maka penikmat ayam KFC di Indonesia mulai Oktober ini tak akan lagi bisa menikmati ayam ditemani dengan minuman Pepsi. Sebab secara bertahap Fast Food bakal mengganti minumannya dengan Coke alias Coca Cola dan produk turunannya.

"Pepsi akan berhentikan distribusinya di Indonesia mulai pertengahan Oktober atau akhir Oktober ini, dan tentu saja juga berhenti suplai ke KFC. Kami sudah persiapkan pengalihan ini sebaik-baiknya dan KFC akan bekerja sama dengan Coke selanjutnya," kata Direktur Fast Food Indonesia Justinus Dalimin kepada CNBC Indonesia, Kamis (3/10/2019).

Tim Riset CNBC Indonesia mencatat, secara umum, kinerja bisnis minuman ICBP sejak 2013 yang dikomando melalui AIBM diketahui memang belum berkontribusi maksimal.

Padahal, hingga akhir 2018, divisi minuman ICBP didukung oleh 19 pabrik yang tersebar di Indonesia dengan total kapasitas produk 3 miliar liter per tahun.

Di awal-awal, tepatnya pada 2013-2014, bisnis minuman perseroan meroket yaitu sebesar 778,37% menjadi Rp 1,93 triliun pada 2014 dari hanya Rp 218,93 miliar pada tahun sebelumnya. Meskipun naik, bisnis minuman belum mampu menuai untung karena masih merugi Rp 351,49 miliar.

(tas/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading