Analisis

Harga Emas Bisa 'Terbang' ke US$ 1.600/Troy Ons, Percaya?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
09 October 2019 13:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia menguat sekitar 1% pada perdagangan kemarin, membalikkan pelemahan pada awal pekan. Penguatan masih berlanjut pada hari ini.

Pada Rabu (9/10/2019) pada pukul 13:46 WIB, harga emas di pasar spot tercatat US$ 1.506,74/troy ons. Naik 0,1% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan China yang kembali memanas dua hari menjelang perundingan dagang di Washington menjadi pemicu penguatan harga emas. Harapan akan adanya damai dagang AS-China langsung meredup, membuat bursa saham global berguguran, dan aset aman (safe haven) seperti emas kembali bersinar.



CNBC International mengutip South China Morning Post mewartakan China menurunkan ekspektasi akan adanya kesepakatan dagang dengan AS. Harian tersebut mengatakan Wakil Perdana Menteri China Liu He yang akan memimpin delegasi China tidak mendapat instruksi khusus dari Presiden Xi Jinping.

Seandainya tidak ada kesepakatan dagang saat pertemuan 10-11 Oktober nanti, Presiden AS Donald Trump sebelumnya sudah mengatakan pada 15 Oktober bea impor produk dari China akan dinaikkan.

Selain itu, AS menambah daftar perusahaan yang masuk daftar hitam (blacklist), termasuk di dalamnya perusahaan yang bergerak di bidang artificial intelligence (AI) China. Kementerian Luar Negeri China akhirnya berkomentar 'tetap pantau' untuk pembalasan tindakan AS tersebut.

"Entitas yang terimplikasi melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk represi di China berupa penahanan dan pengawasan menggunakan teknologi untuk komunitas Uighur, Kazakh, dan kelompok minoritas muslim lainnya," sebut keterangan Kementerian Perdagangan AS yang mendeskripsikan 28 perusahaan yang masuk daftar hitam.

Dengan masuk daftar hitam, artinya 28 perusahaan tersebut tidak bisa melakukan aktivitas bisnis dengan perusahaan AS.


Ketegangan kian meningkat kala AS juga menolak permintaan visa terhadap pejabat China yang diduga terlibat dalam penahanan dan penyiksaan komunitas muslim. China pun tidak terima.

"Masalah #Xinjiang murni urusan dalam negeri kami sehingga pihak luar tidak diperbolehkan mengintervensi. Kami mendesak AS untuk memperbaiki langkahnya dan berhenti mengintervensi urusan dalam negeri China," cuit Kedutaan Besar China untuk AS melalui Twitter.

Hubungan AS-China merupakan salah satu penggerak harga emas. Peluang bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) kembali memangkas suku bunga akibat perekonomian yang melambat besar juga mendongkrak kinerja emas.

"Jelas (ekonomi) agak melambat. Bank sentral akan melakukan kebijakan yang memang pantas (appropriate)," kata Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam pertemuan tahunan National Association of Business Economics (NABE) di Denver, seperti dikutip dari Reuters

Berdasarkan piranti FedWatch milik CME Group, pelaku pasar kini melihat adanya probabilitas sebesar 86,1% The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,5-1,75% pada 30 Oktober (31 Oktober dini hari WIB). 

The Fed sejauh ini sudah dua kali memangkas suku bunga. Tidak hanya The Fed, beberapa bank sentral negara lain juga sudah menurunkan suku bunga, European Central Bank (ECB) bahkan mengaktifkan kembali program pembelian aset (surat berharga dan obligasi) atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE) untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

Akibat pelonggaran moneter diberbagai negara tersebut harga emas diprediksi akan 'terbang' lagi.

"Dengan kebijakan QE terbaru, kami memperkirakan inflow ke ETF berbasis emas akan terus berlanjut, yang dapat mendorong harga emas terus naik. Kami mempertahankan prediksi emas akan menguji level US$ 1.600/troy ons, saat periode penuh ketidakpastian ini" tulis bank OCBC dalam sebuah catatan sebagaimana dilansir CNBC International.


(BERLANJUT KE HALAMAN 2)



(pap/pap)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading