Gawat! 5 Risiko Global Ini Bikin Pasar Nyut-nyutan

Market - Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
06 October 2019 12:38

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah sentimen global membuat pasar kurang bergairah. Para bankir global juga mulai khawatir dengan rapuhnya sistem perbankan global sehingga mereka mulai berhenti meminjamkan satu sama lain sejak krisis subprime mortgage terjadi AS 10 tahun terakhir dan berimbas ke negara lain.

Dalam beberapa bulan, produksi dan perdagangan pabrik juga berkurang, dan memaksa pengangguran meningkat dengan cepat. Beberapa perusahaan ritel pun gulung tikar, baik di AS maupun negara lain, tidak terkecuali negara berkembang.

Sementara bank-bank sentral dan anggota parlemen juga terus berkoordinasi untuk menggerakkan roda keuangan, dan biaya guna memulihkan ekonomi global ini tentu saja mahal.


Ada potensi resesi global ada di depan mata dengan mulai terjadi perlambatan ekonomi yang nyata di AS, beberapa negara dengan ekonomi terbesar di Eropa dan Asia.


CNBC Internasional pun melihat beberapa sentimen negatif di seluruh dunia yang berpotensi menjadi pertimbangan sejumlah negara menerapkan kebijakan politik dan keuangan.

Berikut diantaranya:

Perlambatan ekonomi AS
"Ketika Amerika bersin, dunia terkena flu," begitu bunyi pepatah. Dan ketika dampak dari kebijakan pemangkasan pajak senilai total US$ 1,5 triliun dari Presiden AS Donald Trump mulai berakhir, ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda tersendat.

Dari April hingga Juni tahun ini, investasi bisnis di Negeri Paman Sam turun 1% bila dibandingkan dengan kuartal yang sama di 2018. Selain itu, kepercayaan konsumen merosot paling dalam selama 9 bulan hingga September lalu.

Ekspektasi konsumen untuk prospek jangka pendek AS juga turun tajam di bulan yang sama. Salah satu tolok ukur aktivitas pabrik AS juga menunjukkan bahwa industri manufaktur turun ke level terendah dalam 128 bulan.

Angka itu tampaknya memicu amblasnya Dow Jones Industrial Average, indeks acuan bursa saham Wall Street AS, hingga 800 poin selama 2 hari terakhir. Keuntungan perusahaan juga tersandung. Saham-saham anggota Indeks S&P 500, indeks acuan lainnya, juga melaporkan secara keseluruhan terjadi penurunan pendapatan.

Bank sentral AS, The Fed, kini mengharapkan pertumbuhan tahun ini, sebagaimana tercermin dalam produk domestik bruto (PDB) AS di level 2,2%, jauh di bawah target 3% yang dipegang oleh pemerintahan Trump.

Pada kuartal I-2019, ekonomi AS tumbuh 3,1%, sedikit menurun dibandingkan perkiraan yang dibuat sebelumnya sebesar 3,2%.



Utang China Menggunung
Pemerintah China terus mendorong ekonominya dengan menambah utang dan jumlahnya menjadi sangat besar. Institute of International Finance (IIF) yang berbasis di Washington memperkirakan bahwa pada kuartal I-2019, jumlah total utang korporasi, rumah tangga, dan pemerintah di Tiongkok mencapai 303% dari PDB.

Laporan itu mengatakan upaya Beijing untuk mengendalikan utang perusahaan non-keuangan agaknya dikalahkan dengan tingginya utang di sektor lain yang membuat total utang China menjadi lebih dari US$ 40 triliun.

Berkali-kali Cina mengatakan bahwa pinjaman atau utang tersebut dapat dikelola, tetapi kebijakan itu memicu risiko bahwa ekonominya bisa tersendat.


Andy Rothman, ahli strategi investasi di Matthews Asia, mengatakan pada Maret, bahwa utang China sebetulnya dalam masalah yang serius. Rothman mengatakan bahwa untuk sementara masalah utama China adalah utang perusahaan, yang terus meningkat sejak krisis keuangan global 2008. Sebagian besar pinjaman diambil oleh perusahaan-perusahaan milik negara dari bank-bank yang dikelola pemerintah.

LANJUT HALAMAN 2: Protes Hong Kong dan Digoyangnya Diktator Favorit Trump

Demo Hong Kong dan Digoyangnya Diktator Trump
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading