Harga Batu Bara Naik Tipis di Sepanjang Kuartal III-2019

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
02 October 2019 18:20
Diawali di US$ 69,5, harga komoditas emas hitam ini ditutup di level US$ 71,75 per ton
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara sepanjang kuartal ke tiga cenderung fluktuatif.

Pada awal kuartal III (1/7/2019), harga batu bara acuan ICE Newcastle di tutup ke level US$ 69,50/ton dan di akhir kuartal harga batu bara di tutup ke level US$ 71,75/ton. Artinya secara point to point harga batu bara naik 3,23%.

Namun sejak awal Juli hingga akhir Agustus harga batu bara terus mengalami koreksi. Batu bara mencatatkan harga tertingginya pada 10 Juli ke level US$ 78,3/ton. Sejak saat itu harga batu bara anjlok hingga 17,9% ke level US$ 64,25/ton di akhir Agustus.


Pada September, harga batu bara fluktuatif cenderung menguat. Sejak dibuka pada 2 September harga batu bara tercatat naik 8,36% secara point-to-point. Namun harga batu bara belum dapat terangkat tinggi mencicipi harga tertinggi sebelumnya.



Salah satu penyebab terjadi pelemahan batu bara di bulan Juli dan Agustus adalah sentimen pertumbuhan ekonomi yang melambat. Hampir semua negara pengimpor batu bara terutama di kawasan Asia seperti China, Jepang dan Korea mengalami kontraksi pada sektor manufakturnya. Ditambah dengan komitmen dari negara-negara benua biru untuk memangkas konsumsi batu bara karena mencemari lingkungan.

Pada bulan September harga batu bara cenderung naik setelah impor batu bara China juga naik. Permintaan batu bara China naik 8,1% dalam 8 bulan terakhir dari Januari-Agustus. Hingga Agustus impor batu bara China mencapai 220,8 juta ton. Perlu diketahui bahwa China merupakan negara importir batu bara terbesar di dunia. Bersama India, konsumsi batu bara Negara Tirai Bambu berkontribusi lebih dari separuh konsumsi batu bara global.

Periode Agustus-September merupakan periode yang cukup membawa berkah memang. Pasalnya pada periode tersebut merupakan periode puncak musim panas di kawasan Asia. Suhu sedang tinggi-tingginya membuat permintaan terhadap pendingin ruangan juga tinggi. Ketika permintaan pendingin ruangan tinggi tentu akan berdampak pada tingginya permintaan terhadap listrik. Mayoritas kawasan Asia menggunakan listrik dengan bahan bakar batu bara sehingga permintaan naik.

Namun naiknya permintaan tidak berlangsung lama. Permintaan batu bara untuk kuartal empat diprediksi akan turun. Terutama dari negara importir terbesar batu bara di dunia yaitu China. Diprediksi impor batu bara China kurang dari 13 juta ton per bulan hingga akhir tahun ini.

Belum lagi indeks dolar yang terus menguat pada kuartal ke III. Penguatan indeks dolar ini mencetak rekor tertinggi dalam dua tahun. Menguatnya dolar terutama terhadap mata uang negara-negara importir batu bara seperti Yuan Tiongkok dan Rupee India turut membebani harga batu bara yang dibanderol dalam dolar greenback.




(TIM RISET CNBC INDONESIA)
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading