APLN Dapat Suntikan Modal, Moody's: Masih Ada Risiko

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
01 October 2019 10:19
Lembaga pemeringkat utang global, Moody's Investor Service (Moody's) memberikan peringkat utang korporasi 'B2' dengan prospek negatif pada APLN.
Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat utang global, Moody's Investor Service (Moody's) memberikan peringkat utang korporasi 'B2' pada PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN). Peringkat yang sama pada surat utang yang diterbitkan oleh anak usaha perusahaan, yakni APL Realty Holdings Pte, yang akan jatuh tempo pada 2024.

Sebagai informasi, peringkat utang 'B2' tidak termasuk dalam kategori layak investasi karena dianggap spekulatif dan memiliki resiko kredit yang tinggi.

Moody's memberikan peringkat utang yang sama pada laporannya kali ini seiring dengan upaya perusahaan untuk membayar kembali surat utang dan pinjaman yang telah jatuh tempo melalui fasilitas pinjaman dan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PHMETD/right issue).

Dana yang terhimpun akan digunakan untuk membayar di antaranya (1) utang sindikasi yang jatuh tempo pada 30 September 2019 senilai Rp 1,78 triliun; (2) utang obligasi domestik sebesar Rp 451 miliar yang jatuh tempo 19 Desember 2019; (3) utang obligasi domestik sejumlah Rp 99 miliar yang jatuh tempo 25 Maret 2020; (4) dan fasilitas pinjaman sindikasi senilai Rp 750 miliar yang jatuh tempo 24 Mei 2021.


Lebih lanjut, pada 26 September 2019, APLN mengumumkan telah menerima pendanaan di muka sebesar Rp 800 miliar dari pemegang saham pengendali, yaitu Trihatma Kusuma Haliman dan Keluarga.

Dalam hal ini, pemilik grup telah berkomitmen untuk menyerap penerbitan saham baru (right issues) senilai Rp 800 miliar yang ditunjukkan dengan pembayaran uang muka setoran modal. Keputusan ini akan menunggu hasil persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Pengendali (RUPSLB) yang akan dilangsungkan pada November 2019.

Selain itu, APLN juga telah menandatangani fasilitas pinjaman sebesar US$ 127 juta atau setara Rp 1,77 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$) dengan jangka waktu pinjaman 18 bulan dan menggunakan Mall Central Park sebagai agunan. Fasilitas ini diperoleh dari Credit Opportunities II Pte. Limited dan kreditor lain yang difasilitasi oleh Madison Pacific Trust Limited.

"Konfirmasi (peringkat) 'B2' atas utang korporasi APLN mencerminkan bahwa perusahaan telah mampu mengatur data untuk memenuhi persyaratan pembiayaan selama enam bulan ke depan," ucap Jacintha Poh, Wakil Presiden dan Senior Credit Officer di Moody's.

Meskipun demikian, pada saat bersamaan, perusahaan juga dianalisa memiliki prospek negatif karena fasilitas pembiayaan kembali yang didapatkan akan jatuh tempo pada 18 bulan ke depan.

"Prospek negatif mencerminkan ekspektasi kami bahwa likuiditas APLN akan melemah dalam 12-18 bulan ke depan dan bahwa perusahaan akan menghadapi resiko pembiayaan kembali, karena fasilitas pinjaman akan jatuh tempo pada Maret 2021," tambah Poh.

Dalam delapan bulan pertama tahun 2019, perusahaan membukukan penjualan inti sekitar Rp 1,3 triliun atau setara 43% dari total target tahun ini dengan nilai Rp 3,2 triliun.

Namun, Moody's menganalisa perusahaan tidak akan mampu memenuhi target tahunan tersebut dan hanya berhasil mencapai total penjualan di kisaran Rp 2 triliun. Alhasil profil kredit perusahaan akan tetap lemah seiring dengan minimnya capaian penjualan APLN.

Terlebih lagi, rencana perusahaan untuk menggalang dana di paruh kedua 2019 dengan menjual salah satu aset miliknya juga berpotensi tertunda, di mana ini semakan melemahkan tingkat likuiditas APLN.

Dengan kondisi di atas dan prospek negatif, tidak ada peluang peningkatan peringkat dalam 12-18 bulan ke depan.

Meskipun demikian, prospek dapat kembali stabil jika perusahaan meningkatkan likuiditas dan berhasil menjalankan rencana bisnisnya yang mengarah pada perbaikan profil kredit APLN.

Di lain pihak, Moody's dapat menurunkan peringkat utang APLN jika terjadi perlambatan di pasar properti yang menekan kinerja perusahaan dan depresiasi nilai tukar rupiah yang mengakibatkan peningkatan kewajiban pembayaran utang.

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/dwa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading