Proyeksi PDB Jerman Dipangkas, Euro Jeblok Lagi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 September 2019 20:20
Proyeksi PDB Jerman Dipangkas, Euro Jeblok Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang euro jeblok lagi melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (30/9/19) setelah proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Jerman dipangkas.

Pada pukul euro diperdagangkan di level US$ 1,0897 atau melemah 0,4% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang terendah dalam lebih dari dua tahun terakhir, tepatnya sejak 12 Mei 2017.




Reuters mewartakan dengan mengutip beberapa sumber, institusi ekonomi ternama di Jerman kini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Negeri Panser tahun ini menjadi 0,5%. Proyeksi PDB tersebut lebih rendah dari yang diberikan pada bulan April lalu.



Ekonomi Jerman memang sedang menjadi sorotan belakangan ini akibat buruknya kinerja sektor manufaktur. Sebagai negara yang mengandalkan ekspor sebagai roda penggerak ekonomi, lesunya sektor manufaktur tentunya berdampak buruk bagi perekonomian.

Negeri Kanselir ini pun dikhawatirkan mengalami resesi. Sektor manufaktur Jerman mengalami kontraksi sembilan bulan beruntun. Di bulan ini, kontraksi bahkan mencapai yang terdalam dalam lebih dari satu dekade terakhir.

IHS Markit melaporkan purchasing managers' indeks (PMI) sektor manufaktur Jerman bulan September sebesar 41,4, turun dari bulan sebelumnya 43,5. Sementara sektor jasa meski masih berekspansi mengalami pelambatan menjadi 52,5 dari sebelumnya 54,8.



Indeks ini dirilis oleh IHS Markit dan merupakan hasil survei dari manajer pembelian sehingga disebut juga Purchasing Managers' Index (PMI). Angka 50 menjadi ambang batas, di atas 50 menunjukkan ekspansi atau peningkatan aktivitas, sementara di bawah 50 menunjukkan kontraksi atau aktivitas yang memburuk.

Pertumbuhan ekonomi Negeri Panser di kuartal II-2019 mengalami kontraksi sebesar 0,1% quarter-on-quarter (QoQ). Dengan aktivitas manufaktur yang terus memburuk, maka di kuartal III-2019 Jerman berpeluang besar kembali mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi lagi, sehingga masuk ke jurang resesi.



Resesi yang dialami Jerman tentunya akan berdampak buruk ke negara-negara lainnya di Zona Euro. Ketika sang raksasa sedang lesu, tentunya permintaan impor akan menjadi berkurang, ketika permintaan berkurang negara pengekspor ke Jerman akan turut mengalami pelambatan.

Jika ekonomi Zona Euro terus memburuk, maka European Central Bank (ECB) kemungkinan semakin agresif melonggarkan kebijakan moneter. Pada 12 September, ECB memangkas suku bunga deposito (deposit facility) 10 basis poin (bps) ke -0,5%, sementara main refinancing facility tetap di 0% dan suku bunga pinjaman (lending facility) tetap sebesar 0,25%.

Bank sentral pimpinan Mario Draghi ini juga mengaktifkan kembali program pembelian aset (obligasi dan surat berharga) atau yang dikenal dengan quantitative easing yang sebelumnya sudah dihentikan akhir tahun lalu.

Program pembelian aset kali ini akan dimulai pada 1 November dengan nilai 20 miliar euro per bulan. Berdasarkan rilis ECB yang dilansir Reuters, QE kali ini tanpa batas waktu, artinya akan terus dilakukan selama dibutuhkan untuk memberikan stimulus bagi perekonomian Zona Euro.

Tambahan pelonggaran moneter nantinya dapat berdampak pada berlanjutnya pelemahan euro.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading