Terbongkar! Alasan 2 Direksi Sriwijaya Air Mundur

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
30 September 2019 16:44
Terbongkar! Alasan 2 Direksi Sriwijaya Air Mundur
Jakarta, CNBC Indonesia - Kisruh di tubuh manajemen Sriwijaya Air semakin pelik. Dua direksi Sriwijaya Air tiba-tiba menyatakan mundur dari jabatannya.

Keduanya adalah Direktur Operasi Captain Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Romdani Ardali Adang. Pengunduran diri buntut dari pertikaian bisnis yang terjadi dengan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).

Dalam pertemuan terbatas dengan awak media di Jakarta, Direktur Operasi Captain Fadjar Semiarto mengatakan, Sriwijaya Air saat ini tengah menghadapi masalah yang sangat berat.

Sejumlah masalah dan risiko mucul paska pecah kongsi Sriwijaya dengan Garuda. Sejumlah masalah itu antara lain, sejumlah fasilitas dari Garuda Indonesia melalui kerja sama manajemen (KSM) seperti maintenance repair dan overhaul (MR0) dai GMF Aeroasia sudah dihilangkan.


Belum lagi fasilitas lainnya, kondisi ini dapat menyebabkan operasional maskapai menjadi terganggu.  Dari sekitar 30 unit pesawat yang dikelola perseroan, per hari ini hanya ada sekitar 10 unit pesawat yang mengudara dan melayani sekitar 80 rute.

Ibarat listrik, kata Fadjar mengilustrasikan, Sriwijaya tinggal menunggu listrik itu padam kecuali ada investor yang mau menyuntik modal agar maskapai tetap mengudara.

"Saya terus terang, sejak putus GMF sampai hari ini saya khawatir sekali. Ada tunggakan Rp 800 miliar, operasional penerbangan berisiko," kata Direktur Operasi Captain Fadjar Semiarto, di Jakarta, Senin (30/9/2019).

Fadjar mengatakan sudah menyampaikan surat pengunduran dirinya kepada direktur utama Sriwjaya Air terkait dengan kondisi penerbangan. Namun hingga saat ini. surat tersebut belum direspons.

"Maka kami berdua memutuskan untuk mengundurkan diri untuk menghindari conflict of interest," ungkapnya menambahkan.

Menurutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan, Hazard Indentificatio And Risk Assesment (HIRA), status Sriwijaya Air masih berada di zona merah atau 4A. "HIRA terakhir masih merah, Di 4A, kondisi itu menjadikan kita rentan hal-hal di luar kondisi normal," jelasnya.

Sementara itu, Romdani menambahkan, sejak putus dengan Garuda Maintenance Facilities dirinya cukup khawatir. "Tidak lebih baik saya mengundurkan diri. Demikian," katanya.

Menurut Romdani sulit bagi Sriwijaya untuk melanjutkan operasional cukup berat karena kondisi suku cadang sudah tidak ada. 


Sebelumnya Direktur Quality, Safety, dan Security Sriwijaya Air Toto Soebandoro memberikan surat rekomendasi kepada Plt Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I. Jauwena.

Surat rekomendasi itu bernomor 096/DV/INT/SJY/IX/2019 tertanggal 29 September yang juga diperoleh CNBC Indonesia.

Dalam uraiannya, Toto menegaskan pemerintah dalam hal ini, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan atau DGCA (Directorate General Civil Aviation), sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air setop operasi karena berbagai alasan.

Dalam pertemuan yang dilakukan manajemen, diketahui bahwa ketersediaan tools, equipment, minimum spare dan jumlah qualified engineer yang ada ternyata tidak sesuai dengan laporan yang tertulis dalam kesepakatan yang dilaporkan kepada Dirjen Perhubungan Udara (DGCA) dan Menteri Perhubungan.

Dia mengatakan, ada bukti bahwa Sriwijaya Air belum berhasil melakukan kerja sama dengan JAS Engineering atau MRO (maintenance repair overhaul) lain terkait dukungan line maintenance.

Hal ini berarti Risk Index masih berada dalam zona merah 4A (tidak dapat diterima dalam situasi yang ada). Menurut Toto, situasi ini dapat dianggap bahwa Sriwijaya Air kurang serius terhadap kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk melakukan perbaikan.

Dengan melihat keterbatasan Direktorat Teknik Sriwijaya Air untuk meneruskan dan mempertahankan kelaikudaraan dengan baik, belum adanya laporan keuangan sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan, dan temuan ramp check yang dilakukan oleh inspector DGCA, maka Toto menegaskan pemerintah sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air setop operasi. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading