Terungkap! Ada Dualisme Kepemimpinan di Tubuh Sriwijaya Air

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
30 September 2019 16:26
Terungkap! Ada Dualisme Kepemimpinan di Tubuh Sriwijaya Air
Jakarta, CNBC Indonesia - Perlahan-lahan konflik di tubuh Sriwijaya Air Group mulia terungkap. Jajaran direksi Sriwijaya menyebutkan terjadi dualisme kepemimpinan yang menyebabkan harus pecah kongsi dengan Grup Garuda Indonesia setelah sebelumnya terjadi kerja sama manajemen.

Direktur Operasi Sriwijaya Air Capt Fadjar Semiarto mengatakan dualisme kepemimpinan tersebut membuat internal perseroan sulit berkoordinasi.

"Yang saya simpulkan adanya dualisme kepemimpinan di Sriwijaya Air ada 2 dirut, satu dirut yang di dalam Akta dan satu dirut untuk urusan kontijensi selama masalah terjadi. Ini membuat saya sulit berkoordinasi," kata Fadjar, saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Senin (30/09/2019).



Fadjar menjelaskan, soal laporan mengenai standar keselamatan atau safety yang bocor dan viral cukup meresahkan.

Surat yang dimaksud adalah surat dari Direktur Quality, Safety and Security Sriwijaya Air Capt Toto Soebandoro kepada Plt Dirut Jefferson I. Jauwena.

Toto Soebandoro merekomendasikan kepada Plt Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I. Jauwena agar maskapai yang dibangun oleh Chandra Lie ini setop beroperasi.

Rekomendasi ini disampaikan Kapten Toto dalam kapasitas dan kewajibannya sebagai Direktur Quality, Safety & Security Sriwijaya Air dan keputusan selanjutnya akan diserahkan kepada Plt Direktur Utama. Surat rekomendasi itu bernomor 096/DV/INT/SJY/IX/2019 tertanggal 29 September yang juga diperoleh CNBC Indonesia.

Dalam uraiannya, Toto menegaskan pemerintah dalam hal ini, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air setop operasi karena berbagai alasan yang diungkapkan.

Terungkap! Ada Dualisme Kepemimpinan di Tubuh Sriwijaya AirFoto: Direksi Sriwijaya (CNBC Indonesia/Syahrizal Sidik)

Namun surat tersebut tidak direspons. Ini membuat Fadjar memutuskan untuk mundur. "Maka kami berdua memutuskan untuk mengundurkan diri untuk menghindari conflict of interest," kata Fadjar.

Selain Fadjar, Direktur Teknik Romdani Ardali Adang juga menyatakan mundur. (hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading