Sriwijaya Air Disarankan Setop Operasi, Ini 10 Alasannya

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
30 September 2019 13:35
Sriwijaya Air Disarankan Setop Operasi, Ini 10 Alasannya

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Sriwijaya Air Group (Sriwijaya Air dan NAM Air) pada pekan lalu membantah pemberitaan bahwa maskapai tersebut setop beroperasi. Perusahaan juga mengklaim masih melayani penerbangan sesuai rute yang sudah ada. Belakangan anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) malah menggungat Sriwijaya atas dugaan wanprestasi dalam perjanjian bisnis keduanya.

Pekan ini, Sriwijaya kembali jadi pemberitaan. Kabar mengagetkan datang dari surat rekomendasi yang disampaikan Direktur Quality, Safety, dan Security Sriwijaya Air Toto Soebandoro kepada Plt Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I. Jauwena. Surat rekomendasi itu bernomor 096/DV/INT/SJY/IX/2019 tertanggal 29 September yang juga diperoleh CNBC Indonesia.

Dalam uraiannya, Toto menegaskan pemerintah dalam hal ini, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan atau DGCA (Directorate General Civil Aviation), sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air setop operasi karena berbagai alasan.



Lantas apa yang menjadi dasar rekomendasi ini disampaikan Kapten Toto?

Setidaknya ada

Pertama
Sriwijaya Air hanya mengerjakan line maintenance sendiri, dengan metode Engineer On Board (EOB) dengan jumlah engineer 50 orang, dengan komposisi 20 orang certifying staff, 25 orang RII (required inspection item) dan certifying staff, 5 orang management and control, dan personel tersebut dibagi dalam 4 grup.

Kedua
Sriwijaya Air akan melakukan kerja sama brake and wheel dengan PT Muladatu dan PT JAS Engineering sebagai pemegang AMO 145, dalam 3 hari ke depan (sejak tanggal 24 September 2019).

Ketiga
Sriwijaya Air menguasai tool and equipment untuk kegiatan line maintenance.

Keempat
Sriwijaya Air juga memiliki minimum stock consumable part dan rotable part di beberapa bandara yakni CGK (Cengkareng), SUB (Surabaya), KNO (Medan) dan DPS (Denpasar), sebagai penunjang operasi penerbangan.

Menurut Toto, Direktorat Quality, Safety Security akan mengeluarkan kebijakan, apabila tidak mampu menyediakan komponen yang diperlukan maka pesawat akan di berhentikan pengoperasiannya atau AOG alias Aircraft on ground.


Kelima
Sriwijaya Air juga hanya mempunyai kemampuan mengoperasikan 12 dari 30 pesawat udara yang dikuasai sampai dengan 5 hari ke depan (sejak tanggal 24 September 2019).

"Untuk mempertahankan safe for flight, DKPPU [Direktur Direktorat Kelaikanudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara] akan melaksanakan pengawasan dan evaluasi kegiatan operasi penerbangan berdasarkan kemampuan yang dimiliki Sriwijaya Air," katanya.

Dengan kondisi itu, lanjut Toto, maka dilanjutkan dengan pertemuan dan diskusi bersama Direktur Teknik pada 28 September 2019 untuk mendengar laporan dari pelaksana di lapangan, serta laporan dari inspektor Ditjen Perhubungan Udara yang terus mengawasi.

Keeenam
Dari hasil pertemuan tersebut, diketahui bahwa ketersediaan tools, equipment, minimum spare dan jumlah qualified engineer yang ada ternyata tidak sesuai dengan laporan yang tertulis dalam kesepakatan yang dilaporkan kepada Dirjen Perhubungan Udara (DGCA) dan Menteri Perhubungan.

Ketujuh
Ada bukti bahwa Sriwijaya Air belum berhasil melakukan kerja sama dengan JAS Engineering atau MRO (maintenance repair overhaul) lain terkait dukungan line maintenance. Hal ini berarti Risk Index masih berada dalam zona merah 4A (tidak dapat diterima dalam situasi yang ada). Menurut Toto, situasi ini dapat dianggap bahwa Sriwijaya Air kurang serius terhadap kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk melakukan perbaikan.


Kedelapan
Ada keterbatasan Direktorat Teknik Sriwijaya Air untuk meneruskan dan mempertahankan kelaikudaraan dengan baik.

Kesembilan
Hingga saat ini belum adanya laporan keuangan sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan.

Kesepuluh
Adanya dukungan kuat dari catatan temuan ramp check yang dilakukan oleh inspector DGCA.

Lebih lanjut, Toto menegaskan dengan menimbang uraian tersebut maka pemerintah sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air stop operasi.

"Sehubungan dengan hal tersebut di atas dan setelah diskusi dengan Direktur Teknik dan Direktur Operasi sebagai pelaksana safety, maka kami merekomendasikan Sriwijaya Air menyatakan setop operasi atas inisiatif sendiri (perusahaan) atau melakukan pengurangan operasional disesuaikan dengan kemampuan untuk beberapa hari ke depan, karena alasan memprioritaskan safety. Hal ini akan menjadi nilai lebih bagi perusahaan yang benar-benar menempatkan safety sebagai prioritas utama," ujar Toto.

Mengacu situs resmi perusahaan dan sejumlah literatur lain, Sriwijaya Air didirikan oleh Chandra Lie dari nol bersama dengan saudaranya Hendry Lie. Chandra Lie adalah pengusaha asli Indonesia kelahiran Pangkal Pinang.

Kedua saudara ini menggandeng Johannes Bundjamin dan Andy Halim. Maskapai ini berdiri pada 28 April 2003 dan mendapatkan izin terbang pertamanya pada 28 Oktober 2003.

Hingga kini Chandra Lie belum merespons pertanyaan yang diajukan CNBC Indonesia terkait dengan kondisi ini.


Jajaran direksi Sriwijaya dirombak, Ada Apa?

[Gambas:Video CNBC]

 

(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading