Tunggu Kabar AS-China, Harga Minyak Bergerak Galau

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
30 September 2019 09:58
Harga minyak mentah tampaknya masih dibayang-bayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah tampaknya masih dibayang-bayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Pemicunya masih perang dagang dua raksasa ekonomi global, siapa lagi kalau bukan Amerika Serikat (AS) dan China.

Pada Senin (30/9/2019) pukul 09:20 WIB, harga minyak jenis brent melemah tipis 0,05% dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Namun harga minyak jenis light sweet malah naik 0,27%.




Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh supply dan demand. Koreksi harga si emas hitam dalam dua pekan terakhir apabila ditinjau dari sisi pasokan disebabkan oleh kembali pulihnya kapasitas produksi minyak mentah Arab Saudi yang kembali menyentuh 11 juta barel/hari pada minggu lalu.

Namun menurut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman bi Abdulaziz al Saud mengungkapkan bahwa harga minyak masih mungkin untuk melambung sangat tinggi jika dunia tidak mengambil langkah untuk menghentikan Iran. Seperti kita ketahui bahwa AS menuduh Iran sebagai dalang dalam penyerangan kilang minyak Arab Saudi di Khurais dan Abqaiq. Namun pada kesempatan yang sama, Pangeran Muhammad bin Salman juga menerangkan pihaknya akan lebih mengedepankan solusi politik ketimbang militer mengingat situasi global sedang tidak kondusif.


Sementara dari sisi permintaan, banyak yang masih skeptis negosiasi dagang AS-China akan berjalan mulus Oktober ini. Pasalnya Presiden AS Donald Trump masih menunjukkan perilaku agresif yang mengkritik praktik dagang China.

Baru-baru ini tiga sumber terpercaya menyebutkan bahwa pemerintahan Donald Trump berencana untuk mengusir perusahaan-perusahaan China yang melantai di bursa saham AS. Jika hal tersebut dilakukan, negosiasi dagang kedua belah pihak sangat mungkin berjalan alot.


"Ketika produksi minyak Arab Saudi kembali normal, maka fokus akan kembali beralih pada skenario perang dagang yang menyebabkan penurunan permintaan dan akan semakin mencuat seiring dengan langkah pemerintah AS untuk membatasi aliran investasi ke China" terang Stephen Innes, Market Strategist di SPI Asset Management seperti diberitakan Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(twg/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading