Dikabarkan Setop Operasi, Siapa Pemilik Sriwijaya Air?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
26 September 2019 18:21
Dikabarkan Setop Operasi, Siapa Pemilik Sriwijaya Air?

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Sriwijaya Air Group (Sriwijaya Air dan NAM Air) membantah pemberitaan bahwa maskapai tersebut setop beroperasi. Perusahaan mengklaim pada Kamis ini (26/9/2019) masih melayani penerbangan sesuai rute yang sudah ada.

Namun siapakah sebenarnya pemilik perusahaan yang dikabarkan pecah kongsi dengan PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) ini?

Mengacu situs resmi perusahaan dan sejumlah literatur lainnya, Sriwijaya Air didirikan oleh Chandra Lie dari nol bersama dengan saudaranya Hendry Lie. Chandra Lie adalah pengusaha asli Indonesia kelahiran Pangkal Pinang.


Kedua saudara ini menggandeng Johannes Bundjamin dan Andy Halim. Maskapai ini berdiri pada 28 April 2003 dan mendapatkan izin terbang pertamanya pada 28 Oktober 2003.

Dikabarkan Setop Operasi, Siapa Pemilik Sriwijaya Air?Foto: Presdir Sriwijaya Air Chandra Lie (dua dari kanan) didampingi Preskom Sriwijaya Air Hendrie Lie dan Komisaris Fandy Linggi berpose dengan pimpinan Boeing John Wojick./Detik


"Sriwijaya Air memulai bisnis dengan satu Boeing 737-200. Beberapa ahli yang membantu merintis pendirian Sriwijaya Air adalah Supardi, Kapten Kusnadi, Kapten Adil W, Kapten Harwick L, Gabriella, Suwarsono dan Joko Widodo," tulis manajemen Sriwijaya dalam situs resmi, dikutip CNBC Indonesia.


Setelah membesarkan Sriwijaya Air, Chandra juga mengembangkan NAM Air setelah 10 tahun Sriwijaya Air mengudara. Maskapai ini melayani penerbangan untuk wilayah terbang yang lebih kecil sebagai pengumpan (feeder).

Manajemen Sriwijaya, dalam situs resmi, menegaskan saat ini, Sriwijaya Air Group memiliki 48 pesawat Boeing dengan total 53 rute, termasuk rute regional Medan-Penang dan rute internasional lainnya.

Untuk mengembangkan rute dan pangsa pasar, Sriwijaya Air juga menambahkan Boeing 737-800 Next Generation (NG) dan Boeing 737-900 Extended Range (ER).

Hampir setahun yang lalu tepatnya November 2018, Chandra Lie menyerahkan operasional dan finansial perusahaan yang dibangunnya ini kepada Garuda Indonesia Group, meski kepemilikan masih sepenuhnya masih dimiliki Lie. Penyerahan itu berkaitan dengan masih adanya tunggakan utang perusahaan kepada Garuda Indonesia Group.

Pengambilalihan ini direalisasikan dalam bentuk Kerjasama Operasi (KSO) yang dilakukan Citilink dan Sriwijaya Group. Adapun KSO tersebut ditandatangani pada 9 November 2018.

Namun belum lama ini kerja sama ini dikabarkan pecah kongsi. Dewan Komisaris Sriwijaya Air memutuskan untuk melakukan perombakan di jajaran direksi yang sebelumya ditempati oleh perwakilan dari Garuda Indonesia Group.


Terkait dengan kabar ini, manajemen Garuda juga menegaskan bahwa informasi terkait dengan perubahan manajemen Sriwijaya Air yang berkaitan dengan kerja sama tersebut, maka perlu dilakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada Citilink Indonesia, sebagai pihak yang bekerjasama dengan Sriwijaya.

"Lebih lanjut, laporan yang kami terima dari Citilink Indonesia, sampai dengan saat ini sedang dilakukan pembahasan dan diskusi dengan pihak Sriwijaya Air mengenai perihal tersebut. Atas dasar tersebut, kami belum dapat memberikan keterbukaan informasi kepada OJK [Otoritas Jasa Keuangan] dan publik untuk menghindari kekeliruan serta prematurnya informasi yang disampaikan," tegas manajemen Garuda, dalam keterbukaan informasi di BEI.

Sebagai informasi, sebelum kerja sama Garuda-Sriwijaya terjalin, Sriwijaya punya beban
tanggungan ke beberapa BUMN di antaranya PT Pertamina sebesar Rp 942 miliar, PT GMF AeroAsia Tbk (GMFI) atau anak usaha Garuda senilai Rp 810 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk Rp 585 miliar, PT Angkasa Pura II senilai Rp 80 miliar, dan PT Angkasa Pura I sebesar Rp 50 miliar.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading