Naik 1,4% Pekan Ini, Poundsterling di Level Tertinggi 7 Pekan

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 September 2019 20:07
Naik 1,4% Pekan Ini, Poundsterling di Level Tertinggi 7 Pekan Foto: Ilustrasi Poundsterling (REUTERS/ Benoit Tessier)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang poundsterling kembali menguat pada perdagangan Jumat (13/9/19). Sepanjang pekan ini, mata uang Inggris ini sudah menguat 1,4% dan mencapai level tertinggi tujuh pekan.

Pada pukul 19:18 WIB, poundsterling diperdagangkan di level US$ 1,2451 atau menguat 0,96% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Semakin mengecilnya potensi keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun (no-deal Brexit) menjadi pemicu penguatan poundsterling.

Kabar terbaru dari harian The Times sebagaimana dilansir CNBC International menyebutkan sikap Democratic Unionist Party (DUP) mulai melunak terhadap isu perbatasan Republik Irlandia dengan Irlandia Utara atau yang dikenal dengan backstop. Backstop ini merupakan masalah utama dan membuat Brexit menjadi alot.

DUP secara konsisten menolak adanya backstop atau perbatasan bebas bea masuk, artinya kedua negara masih bisa melakukan perdagangan bebas. Meski demikian pemimpin DUP, Arlene Foster, menyangkal berita tersebut dan mengatakan hal itu omong kosong. Namun nyatanya, poundsterling tetap terus melaju kencang.

Sebagaimana dikutip CNBC International, Kepala strategi mata uang Societe Generale Kit Juckes mengatakan berita dari The Times itu memicu aksi short covering (melepas posisi jual) para trader, sehingga poundsterling terus menguat. Poundsterling terus menguat setelah Parlemen Inggris berhasil memperkecil kemungkinan terjadinya no-deal Brexit.

Pada pekan lalu parlemen Inggris melakukan voting dan hasilnya menyepakati pembuatan rancangan undang-undang yang mencegah terjadinya no-deal Brexit. Voting lain juga menghasilkan Pemerintah Inggris harus meminta penundaan deadline Brexit selama tiga bulan kepada Uni Eropa.

Selain itu, manuver Perdana Menteri (PM) Inggris Johnson untuk melakukan Pemilu sela juga kandas di hadapan parlemen. Pemilu tersebut tentunya dimaksudkan untuk merombak susunan parlemen agar diisi mayoritas pendukungnya.

Kini perhatian tertuju pada pertemuan PM Johnson dengan para pemimpin Uni Eropa pada 17 dan 18 September. Johnson diperkirakan akan memulai kembali perundingan Brexit sebelum deadline 31 Oktober nanti.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading