Genjot Produk Baru, Bahana TCW Bidik Dana Kelolaan Rp 52 T

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
05 September 2019 12:48
Genjot Produk Baru, Bahana TCW Bidik Dana Kelolaan Rp 52 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan manajer investasi PT Bahana TCW Investment Management menargetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) sepanjang tahun 2019 bisa mencapai Rp 52 triliun, meningkat sebesar 10% dari pencapaian tahun sebelumnya Rp 48 triliun.

Direktur Utama Bahana TCW Edward Lubis menyampaikan, hingga Agustus, Bahana sudah mengelola jumlah aset sebesar Rp 49,74 triliun. Ada beberapa produk yang akan diluncurkan hingga akhir tahun ini seperti reksa dana terproteksi, produk ETF (exchange traded fund) atau reksa dana yang dapat ditransaksikan di bursa dan dua produk Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT).

"Target kami ada tambahan Rp 1,5 triliun - Rp 2 triliun dana kelolaan tambahan hingga akhir tahun menjadi Rp 52 triliun," kata Edward Lubis di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (5/9/2019).



Dia menyebut, instrumen reksa dana saham pada tahun ini imbal hasilnya dapat tumbuh single digit di bawah 5%. Sedangkan, instrumen fixed income atau obligasi secara tahun berjalan, imbal hasilnya mampu tumbuh 9%.

Hal ini disebabkan karena penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,5% dan tren arus modal asing yang masuk ke Indonesia.

"Arus modal asing lumayan banyak, sebesar US$ 8 miliar (masuk ke instrumen obligasi)," kata dia menambahkan.


Instrumen Baru
Salah satu instrumen baru yang menambah dana kelolaan Bahana yang baru diluncurkan pada Kamis ini di BEI adalah sekuritisasi aset bernama Kontrak Investasi Kolektif (KIK) Efek Beragunan Aset (EBA) Bahana Bukopin Kumpulan Tagihan Kredit Pensiunan Yang Dialihkan.

Produk ini adalah sekuritisasi aset untuk tagihan pensiunan kelas A1 dengan nilai pokok Rp 480,40 miliar dan bunga kupon 9,25% dan tenor 3 tahun.

Selain kelas A1, Bahana juga menawarkan kelas A2 yang merupakan produk private placement dengan tenor 7 tahun dan bunga kupon 10%.

Edward menjelaskan, instrumen baru ini memiliki profil risiko yang rendah karena telah mendapat peringkat AAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Saat ini, 95% investornya adalah institusi, salah satunya Dana Pensiun Pertamina.

"Kebanyakan institusi, ritel tidak sampai 5 persen. Ini kan minimum investasi Rp 1 juta, jadi bisa. Tapi kita fokus institusi dulu,"ungkapnya. (tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading