Ibu Kota Pindah ke Kaltim, Saham Properti Kok Makin Anjlok?

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
26 August 2019 14:17
Pengumuman pemindahan ibu kota yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak berpengaruh signfinikan. Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham pengembang properti besar rontok pada awal perdagangan sesi II. Pengumuman pemindahan ibu kota yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak berpengaruh signfinikan.

Harga saham PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) pada awal sesi II perdagangan hari ini merosot hingga 5,97% ke level Rp 630/unit. Lalu saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) ambruk 4,51% ke level harga Rp 1.160/unit.

PT Agung Podomoro Tbk (APLN) amblas 3,26% ke level Rp 178/unit. Lalu saha PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) turun 2,14% ke level harga Rp 1.370/saham.

Beberapa dari pengembang besar tersebut sebenarnya digadang-gadang mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang karena sudah memiliki land bank.

Jokowi siang ini memutuskan lokasi Ibu Kota akan berada di Kalimantan Timur (Kaltim). "Hasil kajian menyimpulkan lokasi Ibu Kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara. Di Provinsi Kalimantan Timur," ungkap Jokowi di Istana Negara, Senin (26/8/2019).

Jokowi mengatakan pemindahan ibu kota ini akan memakan biaya Rp 466 triliun. Jokowi juga mengatakan, untuk membiayai pemindahan ibu kota ini sebesar 19% akan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Itupun dengan skema pengelolaan aset di ibu kota baru dan DKI Jakarta. Sisanya KPBU (Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha) serta investasi langsung swasta dan BUMN," ujar Jokowi.

Diam-diam para pengembang kakap sudah memiliki stok lahan di kawasan Kalimantan Timur (Kaltim) terutama di Balikpapan dan Samarinda. Kedua kota mengapit calon lokasi ibu kota Indonesia yang baru nantinya.

Ketua DPD Realestate Indonesia (REI) Kaltim, Bagus Susatyo, mengatakan memang ada para pengembang besar yang sudah punya stok lahan di kedua kota tersebut. Mereka sudah menyiapkannya jauh-jauh hari sebelum ada rencana pemindahan ibu kota.

Ia bilang Sinarmas Land punya cadangan lahan sampai 200 hektar di Balikpapan, dan jumlah yang sama di Samarinda Kaltim. Bagus bilang Agung Podomoro juga punya lahan hektaran di Balikpapan maupun Samarinda.

Pengembang lain seperti Ciputra juga punya lahan hektaran di kedua kota tersebut. Ciputra memang punya kerja sama operasi di Balikpapan dan Samarinda. Selain itu, ada pengembang lain yang punya cadangan lahan di Kaltim.

"Itu sudah sejak 10 tahun lalu," kata Bagus kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/8)

Bagus mengatakan dampak pemindahan ibu kota tentu akan berimplikasi berputarnya ekonomi terutama dalam jangka pendek dari biaya pembangunan yang mencapai Rp400 triliun lebih.

Belum lagi adanya pembangunan kawasan permukiman dan pusat komersial lainnya. Properti di Kaltim dalam empat tahun terakhir sedang mandek, adanya lokasi ibu kota baru akan mengerek kawasan ini.

"Yang jelas akan ada proses konstruksi dan pembangunan paling tidak ada sentral ekonomi yang bergerak, hunian tetap berjalan kalo pasca tambang sudah habis di Kaltim, sekarang dengan ibu kota baru, ada sedikit harapan," katanya.

Direktur Ciputra Development, Tulus Santoso Brotosiswojo, mengakui perseroan memang punya banyak proyek di dua kota di Kaltim, di Balikpapan dan Samarinda.

"Iya itu memang proyek pengembangan oleh CTRA tapi under KSO (Kerja Sama Operasi) artinya land bank tersebut milik partner lokal kita," katanya.

Sementara itu, Direktur Sinar Mas Land, Ignesjz Kemalawarta, tak mau menjawab saat dikonfirmasi. Ia bilang masalah stok lahan perseroan di Kaltim "masih rahasia".
Artikel Selanjutnya

Ibu kota Pindah, Saham Properti Malah Anjlok


(hps/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading