Bunga Turun, Alam Sutera Rilis Obligasi Global US$ 175 Juta

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
20 August 2019 19:25
Bunga Turun, Alam Sutera Rilis Obligasi Global US$ 175 Juta
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pengembang properti, PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) berencana menerbitkan obligasi senilai US$ 175 juta atau setara dengan Rp 2,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.100/US$) yang akan digunakan untuk membiayai kembali atau refinancing utang obligasi jatuh tempo April 2021.

Perusahaan akan membuka opsi percepatan pembelian kembali (call option) obligasi tersebut jika memungkinkan.

Presiden Direktur Alam Sutera Joseph Sanusi Tjong mengatakan penerbitan obligasi ini ditujukan untuk memperpanjang tenor dan menurunkan beban bunga perusahaan. Sebab obligasi yang diterbitkan di awal tahun ini bunganya tinggi dan dengan tenor yang terbilang pendek, yakni selama 2 tahun 3 bulan.



"Kemarin mahal, pasarnya tidak ada. Memang susah juga pasar. Jadi kalau pasar membaik kita akan pakai call option di April 2020 di-refinancing pakai obligasi juga senilai US$ 175 juta," kata Joseph usai paparan publik di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Menurut dia, obligasi baru ini akan memiliki tenor setidaknya selama 5 tahun, lebih panjang daripada tenor yang saat ini.

Adapun penerbitan obligasi di awal Januari 2019 lalu ditujukan untuk mendanai pembelian kembali utang obligasi yang akan jatuh tempo pada tahun 2020.

Namun demikian, penerbitan obligasi di masa tersebut dinilai cukup berat karena tingkat bunga yang tinggi (global bond tersebut memiliki tingkat bunga 11,5%/tahun). Selain itu, beban bunga tinggi karena nilai tukar rupiah juga masih berfluktuasi.

Ke depan, Joseph menilai kondisi pasar akan semakin kondusif dengan mulai diturunkannya tingkat suku bunga baik oleh The Fed dan Bank Indonesia, untuk bisa menerbitkan surat utang kembali.

Adapun risiko nilai tukar dinilai masih tidak terlalu berisiko bagi perusahaan.

"Itu kalau nilai tukar perubahannya tidak drastis, tidak jadi concern yang unlikely apa Indonesia structurally ada risiko. Kalau Rp 14.000-Rp 15.000 [per dolar AS] mungkin pasar tidak terpengaruh," jelas dia.


(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading