Ekspor Nikel Bakal Dilarang, Saham Emiten Nikel Amblas (Lagi)

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
20 August 2019 11:21
Ekspor Nikel Bakal Dilarang, Saham Emiten Nikel Amblas (Lagi)
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten-emiten pertambangan logam dan mineral khususnya nikel dan emas masih melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa ini (20/8/2019) setelah sehari sebelumnya juga terkoreksi cukup dalam.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pada pukul 11.04 WIB, saham PT Aneka Tambang Tak (ANTM) menjadi yang terlemah yakni minus 2,30% di level Rp 1.060/saham. Kemarin saham Antam juga anjlok 2,23% di level Rp 1.095/saham.

Dalam situs resmi Antam disebutkan perusahaan mengoperasikan dua tambang nikel di Sulawesi Tenggara yakni di Pomalaa dan Tapunopaka, dan satu tambang nikel di Maluku Utara, serta tiga pabrik pengolahan feronikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Produksi utama emas dan perak Antam berasal dari tambang bawah tanah Pongkor, Jawa Barat dan Cibaliung, Banten.



Antam juga punya bisnis tambang di Papua Barat, tepatnya di Pulau Gag, melalui anak usahanya PT Gag Nikel.

Saham PT SMR Utama Tbk (SMRU) juga amblas 1,92% di level Rp 1.005/saham. SMR sebetulnya fokus pada batu bara, tapi beberapa proyek sebelumnya mengerjakan SMRU menjadi kontraktor tambang nikel di PT Gane Permai Sentosa, Pulau Obi, Maluku Utara pada kurun 2008-2009.

SMRU juga menjadi kontraktor tambang nikel milik Antam di Tambang Pulau Gee, Maluku, pada kurun 1998 hingga 2007.

Emiten nikel lainnya, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sahamnya juga turun 1,15% di level 3.440/saham, begitu pun 
PT Timah Tbk (TINS) yang sahamnya minus 0,97% di level Rp 1.020/saham. Timah memproduksi produk non-timah dengan menggandeng emiten lain, yakni Antam.

Saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang kemarin minus 4,73% di level Rp 282/saham kini sahamnya stagnan di level Rp 262/saham, sementara saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang kemarin amblas 3,68% di level 262/saham kini naik lagi 5,34% di level Rp 276/saham.

Anjloknya harga saham emiten di sektor ini bersamaan dengan jatuhnya harga emas global, yang juga berimbas pada turunnya harga emas Antam hari ini.

Selain itu, sentimen lain yang mempengaruhi harga nikel adalah rencana pemerintah melarang ekspor nikel. Hingga saat ini para pelaku industri sedang menunggu keputusan dari presiden.

Menteri ESDM Ignasius Jonan menegaskan kebijakan percepatan larangan ekspor bijih besi sedang dipertimbangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Larang ekspor tersebut diberlakukan untuk mengambangkan industri hilir agar nikel Indonesia punya nilai lebih.

"Presiden masih sedang mempertimbangkan, mau hilirisasi (nikel) ini dipercepat atau tidak," kata Jonan kepada CNBC Indonesia di Tembagapura, Minggu (18/8).

Jonan menegaskan soal kemungkinan bisa atau tidak adanya percepatan larangan ekspor bijih nikel, ia mempersilakan tanya ke Presiden Jokowi langsung. Namun, ia menegaskan saat ini ketentuan ekspor bijih nikel belum ada perubahan.

"Ini kan masih didiskusi, ikuti peraturan yang sudah ada saja. Saya nggak tahu silakan tanyakan ke presiden,"katanya.

(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading