Kemarin Hancur Lebur, Hari Ini Wall Street Masih Merah

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
15 August 2019 18:14
Kemarin Hancur Lebur, Hari Ini Wall Street Masih Merah Foto: Wall Street (AP Photo/Richard Drew)
Jakarta, CNBC Indonesia - Wall Street akan dibuka di zona merah pada perdagangan hari ini. Hingga pukul 18:00 WIB, kontrak futures Dow Jones mengimplikasikan penurunan sebesar 207 poin pada saat pembukaan perdagangan malam hari ini, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite diimplikasikan turun masing-masing sebesar 20 dan 101 poin.

Wall Street masih akan melemah pasca sudah hancur lebur pada perdagangan kemarin (14/8/2019). Kemarin, indeks Dow Jones ambruk 3,05% ke level 25479.42, menandai koreksi terdalam secara persentase yang dibukukan indeks tersebut pada 2019, serta menandai koreksi terdalam secara poin yang keempat sepanjang sejarah. Sementara itu, indeks S&P 500 jatuh 2,93% ke level 2.840,6 dan indeks Nasdaq Composite anjlok 3,02% ke level 7.773,94.

Sentimen negatif bagi pasar saham Negeri Paman Sam masih datang dari pergerakan di pasar obligasi AS. Pada perdagangan kemarin, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 2 tahun sempat melampaui yield obligasi AS tenor 10 tahun. Fenomena ini disebut sebagai inversi. Pada penutupan perdagangan kemarin, inversi sudah tak terjadi. Namun pada hari ini, inversi kembali terjadi. Inversi yang terjadi kemarin menjadi yang pertama sejak siklus inversi pada akhir 2015 silam.


Melansir data dari Refinitiv, yield obligasi tenor 2 tahun pada hari ini berada di level 1,5649%, sementara yield obligasi tenor 10 tahun berada di level 1,5606%. Yield obligasi tenor 2 tahun mengungguli tenor 10 tahun sebesar 0,4 basis poin (bps).

Untuk diketahui, inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan tenor panjang. Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang pastilah lebih berisiko ketimbang tenor pendek. Terjadinya inversi mencerminkan bahwa pelaku pasar melihat risiko yang tinggi dalam jangka pendek yang membuat mereka meminta yield yang tinggi sebagai kompensasi.

Inversi di pasar obligasi AS menjadi hal yang krusial bagi pasar keuangan dunia lantaran terjadinya inversi merupakan sinyal dari terjadinya resesi di AS di masa depan. Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Terhitung sejak 1978, telah terjadi 5 kali inversi antara tenor 2 dan 10 tahun, semuanya berujung pada resesi. Berdasarkan data dari Credit Suisse yang kami lansir dari CNBC International, secara rata-rata terdapat jeda waktu selama 22 bulan semenjak terjadinya inversi hingga resesi.

Lebih lanjut, memanasnya perang dagang AS-China ikut berkontribusi dalam memantik aksi jual di bursa saham AS. Pada sore hari ini, Kementerian Keuangan China mengatakan pihaknya harus mengambil langkah balasan guna merespons rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan bea masuk senilai 10% bagi produk impor asal China yang hingga kini belum terdampak perang dagang.

Itikad baik dari AS ternyata tak digubris oleh China. Seperti yang diketahui, pada hari Selasa (13/8/2019) Kantor Perwakilan Dagang AS mengumumkan bahwa pihaknya akan menghapus beberapa produk dari daftar produk impor asal China yang akan dikenakan bea masuk baru pada awal bulan depan.

Kantor Perwakilan Dagang AS dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa keputusan ini dilandasi oleh alasan "kesehatan, keselamatan, keamanan nasional, dan faktor-faktor lainnya", dilansir dari CNBC International.

Lebih lanjut, pengenaan bea masuk baru senilai 10% untuk berbagai produk lainnya yang sejatinya akan mulai berlaku efektif pada awal September diputuskan ditunda hingga 15 Desember. Produk-produk yang akan ditunda pengenaan bea masuknya mencakup ponsel selular, laptop, konsol video game, dan monitor komputer.

Pada hari ini, tidak ada pejabat The Federal Reserve yang dijadwalkan untuk berbicara.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading