Sangkakala Sudah Ditiup, AS akan Masuk Jurang Resesi?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
15 August 2019 15:01
Sementara itu, indeks S&P 500 jatuh 2,93% ke level 2.840,6 dan indeks Nasdaq Composite anjlok 3,02% ke level 7.773,94.
Jakarta, CNBC Indonesia- Aksi jual dengan intensitas yang sangat besar (sell-off) melanda pasar saham AS alias Wall Street pada perdagangan kemarin (14/8/2019). Indeks Dow Jones ambruk 3,05% ke level 25479.42, menandai koreksi terdalam secara persentase yang dibukukan indeks tersebut pada tahun 2019, serta menandai koreksi terdalam secara poin yang keempat sepanjang sejarah.

Sementara itu, indeks S&P 500 jatuh 2,93% ke level 2.840,6 dan indeks Nasdaq Composite anjlok 3,02% ke level 7.773,94.

Sell-off pun merambah ke pasar saham tanah air. Hingga berita ini diturunkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,74% ke level 6.220,74.


Penyebab dari sell-off tersebut adalah pergerakan di pasar obligasi AS. Pada perdagangan kemarin, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 2 tahun sempat melampaui yield obligasi AS tenor 10 tahun.

Fenomena ini disebut sebagai inversi. Pada penutupan perdagangan kemarin, inversi sudah tak terjadi. Namun pada hari ini, inversi kembali terjadi. Inversi yang terjadi kemarin menjadi yang pertama sejak siklus inversi pada akhir 2015 silam.

Melansir data dari Refinitiv, yield obligasi tenor 2 tahun pada hari ini berada di level 1,5649%, sementara yield obligasi tenor 10 tahun berada di level 1,5606%. Yield obligasi tenor 2 tahun mengungguli tenor 10 tahun sebesar 0,4 basis poin (bps).


Untuk diketahui, inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan tenor panjang. Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang pastilah lebih berisiko ketimbang tenor pendek.

Terjadinya inversi mencerminkan bahwa pelaku pasar melihat risiko yang tinggi dalam jangka pendek yang membuat mereka meminta yield yang tinggi sebagai kompensasi.

Inversi di pasar obligasi AS menjadi hal yang krusial bagi pasar keuangan dunia lantaran terjadinya inversi merupakan sinyal dari terjadinya resesi di AS di masa depan. Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Sejatinya, inversi di pasar obligasi AS juga terjadi belum lama ini, namun melibatkan tenor yang berda dari saat ini (2 tahun dan 10 tahun). Pada tanggal 3 Desember 2018, terjadi inversi pada tenor 3 dan 5 tahun.

Melansir data dari Refinitiv, pada penutupan perdagangan tanggal 3 Desember 2018, yield obligasi AS tenor 3 tahun berada di level 2,844%, sementara untuk tenor 5 tahun berada di level 2,839%.

Dalam 3 resesi terakhir yang terjadi di AS (1990, 2001, dan 2007), selalu terjadi inversi pada tenor 3 dan 5 tahun. Melansir CNBC International yang mengutip Bespoke, dalam 3 resesi terakhir, inversi pertama pada tenor 3 dan 5 tahun datang rata-rata 26,3 bulan sebelum resesi terjadi.

Namun, konfirmasi datang atau tidaknya resesi baru akan datang jika terjadi inversi pada tenor 3 bulan dan 10 tahun. Pasalnya, inversi pada tenor 3 dan 5 tahun selalu diikuti oleh inversi pada tenor 3 bulan dan 10 tahun terlebih dahulu sebelum resesi benar-benar terjadi.

Pada Maret 2019, obligasi AS tenor 3 bulan dan 10 tahun pada akhirnya mengalami inversi. Melansir data dari Refinitiv, pada penutupan perdagangan tanggal 22 Maret 2019, yield obligasi AS tenor 3 bulan berada di level 2,462%, sementara untuk tenor 10 tahun berada di level 2,455%.

BERLANJUT KE HALAMAN 2
(ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading