Roundup

10 Tahun Berat bagi Industri CPO, Indosat Rugi Rp 331 M

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
07 August 2019 08:43
Bursa saham domestik kembali terkoreksi pada perdagangan Selasa kemarin.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham domestik kembali terkoreksi pada perdagangan Selasa kemarin (6/8/2019). Hingga pasar ditutup, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembab 0,91% ke posisi 6.119,47. Sejak awal perdagangan, IHSG dibuka melemah di posisi 6.105,09.

Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang juga terjebak di zona merah: indeks Nikkei turun 0,65%, indeks Shanghai anjlok 1,56%, indeks Hang Seng jatuh 0,67%, indeks Straits Times terkoreksi 0,74%, dan indeks Kospi terpangkas 1,51%.

Perang dagang AS-China yang kian panas menjadi faktor yang melandasi aksi jual di bursa saham Benua Kuning.


Sebelum perdagangan Rabu (7/8/2019) dibuka, cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia:


1.Bos Astra Agro: 2019 Periode Terburuk 10 Tahun Terakhir
Kinerja kurang memuaskan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) pada paruh pertama tahun 2019 menjadi catatan tersendiri bagi produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari Grup Astra. Kejatuhan harga CPO membuat 2019 sebagai periode terburuk yang pernah dicatat perseroan.

"Tahun ini bisa dibilang tahun terburuk dalam 10 tahun terakhir," ungkap Presiden Direktur Astra Agro, Santosa, saat wawancara khusus dengan CNBC Indonesia di kantor Astra Agro Lestari, Pulogadung, Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Santosa menyebutkan, harga komoditas sawit mentah rentan bergejolak memang menjadi faktor krusial karena tidak bisa dikendalikan manajamen. Hal ini, kata Santosa, diperparah dengan sentimen negatif seperti perang dagang Amerika Serikat dan China serta dampak kampanye negatif sawit di Uni Eropa.


2.Pendapatan Naik, Tapi Indosat Masih Rugi Rp 331,9 M
Emiten telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) masih membukukan kerugian sebesar Rp 331,9 miliar pada semester pertama 2019, turun 52,2% dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp 693,7 miliar.

Emiten dengan kode saham ISAT ini berhasil membukukan pendapatan Rp 12,29 triliun, naik 11,1% dari tahun sebelumnya Rp 11,06 triliun.

Pendapatan ini paling besar masih disokong oleh layanan selular sebesar Rp 9,96 triliun. selanjutnya MIDI Rp 1,98 triliun dan telekomunikasi tetap sebesar Rp 341,8 miliar.

Namun, sejalan dengan naiknya pendapatan, beban usaha juga tercatat meningkat 16,8% jadi Rp 11,49 triliun dari sebelumnya Rp 10,53 triliun. EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) tercatat tumbuh sebesar 26,6% menjadi sebesar Rp4,4 triliun pada paruh pertama 2019.

3.Rilis Kontrak Olein, Bursa Berjangka Siap Genjot Transaksi
Pelaku pasar perdagangan komoditas berjangka terus bersinergi guna meningkatkan penetrasi di industri ini, termasuk yang dilakukan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan badan pengawasnya yakni Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Kementerian Perdagangan (Bappebti).

Salah satu strateginya yakni penambahan komoditas yang diperdagangkan di bursa berjangka. Bappebti menegaskan bahwa komoditas yakni olein (hasil minyak turunan dari minyak sawit mentah atau crude palm oil/CPO) dapat diandalkan sebagai komoditas yang diperdagangkan secara multilateral di BBJ pada paruh kedua tahun ini.

Alasannya, menurut Bappebti, ada permintaan dari pelaku industri minyak dalam kemasan agar produk tersebut diperdagangkan di BBJ.
Sebab itu Bappebti mengajak pelaku usaha di sektor ini untuk tertarik masuk ke bursa berjangka. Apalagi, Kementerian Perdagangan akan mewajibkan produsen mengalihkan minyak goreng yang tadinya dalam bentuk curah ke dalam kemasan.

"Industri pengemasan butuh bahan baku minyak goreng, ini rata-rata kapasitas tidak besar, sekitar 10-20 ton. Ini market-nya ada dan paling memungkinkan," kata Kepala Bappebti Indrasari Wisnu Wardhana, saat acara peluncuran kontrak multilateral OLE10 di Jakarta, Senin (5/8/2019).


4.IHSG Ambruk, Ini Rekomendasi Lo Kheng Hong
Investor saham kenamaan Indonesia, Lo Kheng Hong, merekomendasikan beberapa sektor potensial yang akan menjadi penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun ini. Dia juga optimistis IHSG akan kembali pulih seiring dengan sentimen positif yang menyertainya.

"Saya optimistis IHSG akan kembali naik karena The Fed [bank sentral AS] sudah turunkan suku bunga," katanya kepada CNBC Indonesia, Selasa (6/8/2019).

"Sektor potensial perbankan dan barang konsumsi," katanya lagi.

5.China Setop Beli Produk Pertanian AS, Harga CPO Amblas
Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali tertekan setelah sempat berada pada harga tertinggi dalam dua minggu. Kejatuhan harga CPO disebabkan penurunan harga kedelai dunia setelah China memutuskan menyetop impor beberapa produk pertanian Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan tengah hari kemarin, harga CPO kontrak pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMDEX) melemah 0,33% ke level MYR 2.084/ton. Padahal di awal pekan, harga CPO ditutup melesat 1,5% di posisi MYR 2.093/ton, tertinggi dalam dua minggu terakhir.

Kejatuhan harga CPO merupakan dampak dari kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan akan mengenakan bea impor sebesar 10% atas produk asal China senilai US$ 300 miliar mulai 1 September 2019.

Langkah Negeri Paman Sam direspons China dengan memberikan serangan balasan. Juru bicara Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan asal Negeri Tirai Bambu telah menghentikan pembelian produk-produk pertanian asal AS, seperti dikutip dari Reuters.


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading