Masuk UMA Saham Global Teleshop Meroket 24%, Digoreng?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
25 July 2019 11:23
Saham emiten perdagangan ponsel PT Global Teleshop Tbk (GLOB) liar lagi.
Jakarta, CNBC Indonesia - Meski sudah masuk radar pengawasan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten perdagangan ponsel PT Global Teleshop Tbk (GLOB) liar lagi. Jelang perdagangan sesi I Kamis ini (25/7/2019) berakhir, sahamnya melejit 24,41%.

Data perdagangan BEI mencatat, saham GLOB melesat di level Rp 530/saham dengan nilai transaksi Rp 290,03 juta dengan volume perdagangan 580.300 saham.

Secara year to date atau tahun berjalan, saham GLOB melesat 64%, sementara dalam sepekan terakhir sahamnya naik 5%.


Pada 19 Juli, BEI sudah memasukkan saham GLOB dalam pengawasan karena terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham yang di luar kebiasaan (unusual market activity/UMA).

Sebab itu BEI meminta investor untuk memperhatikan jawaban emiten terkait atas permintaan konfirmasi bursa, mencermati kinerja emiten tercatat, dan mengkaji kembali rencana aksi korporasi dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari atas perusahaan tercatat.

Sehari sebelum pengawasan UMA ini, atau pada 18 Juli, saham GLOB melesat setelah ikut tren positif saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dan PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO). Dua saham itu sebelumnya terkena imbas positif isu pelarangan perdagangan ponsel ilegal yang membuat sahamnya juga melesat.

Belakangan, saham Trikomsel disuspensi atau dihentikan sementara sejak 17 Juli lalu hingga saat ini.

Penguatan saham-saham emiten ponsel ini diduga karena langkah pemerintah membuat regulasi tentang IMEI untuk ponsel-ponsel yang beredar di Indonesia, terutama ponsel ilegal.

Rencana pemerintah menerapkan aturan verifikasi dan nomor identitas asli ponsel melalui International Mobile Equipment Identity (IMEI) ini mampu mengangkat saham-saham penjualan ponsel. Rencananya regulasi ini akan diterapkan pada 19 Agustus 2019.

Dari sisi kinerja, pendapatan GLOB pada kuartal I-2019 amblas hingga menjadi Rp 57,93 miliar dari periode yang sama 2018 yakni Rp 160,97 miliar. Perseroan juga masih menderita rugi bersih Rp 6,46 miliar kendati berkurang dari rugi bersih kuartal I-2018 yakni rugi Rp 11,91 miliar.






(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading