Sempat Dibuka Naik, Bursa Singapura Langsung Anjlok

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
12 July 2019 08:25
Sempat Dibuka Naik, Bursa Singapura Langsung Anjlok Foto: Reuters
Jakarta, CNBC Indonesia - Kata-kata sakti Gubernur The Fed, bank Sentral AS, Jerome Powell masih mampu mengerek bursa saham utama Singapura saat dibuka menguat pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (12/7/2019). 

Data pasar menunjukkan indeks Straits Times (STI) dibuka naik 0,13% ke level 3.354,78 poin, di mana dari 30 saham yang menghuni indeks acuan bursa saham Singapura tersebut, sebanyak 12 mencatatkan kenaikan harga, 10 saham melemah, dan 8 saham tidak mencatatkan perubahan harga.

Namun hingga berita ini dimuat, indeks Straits Times sudah masuk ke zona merah dengan melemah 0,12% ke level 3.346,51 poin.



Pada awal pembukaan pasar, STI mampu masuk ke zona hijau karena masih ada efek sisa dari paparan Powell Kamis kemarin (11/7/2018). Pasalnya dalam paparannya Powell mengindikasikan adanya pemotongan suku bunga acuan AS dalam waktu dekat.

Akan tetapi, rilis data terbaru Singapura langsung menghembus sentimen positif tersebut.

Pembacaan awal pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura kuartal II-2019 tumbuh stagnan di level 0,1% year-on-year (YoY), jauh di bawah konsensus yang memprediksi ekspansi 1,1% secara tahunan, dilansir Trading Economics.

Sementara itu,laju pertumbuhan PDB secara kuartalan yang disetahunkan tercatat mengalami kontraksi 3,4%, padahal pada kuartal sebelumnya PDB Negeri Singa mampu tumbuh 3,8%, dilansir Trading Economics.

Rilis pertumbuhan ekonomi yang kurang memuaskan dapat kembali mendorong pemerintah untuk memotong target pertumbuhan ekonomi mereka.


Sebelumnya Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 3,5% menjadi di kisaran 1,5-2,5%, setelah data PDB kuartal pertama yang mengecewakan.

Analis Maybank Chua Hak Bin dan Lee Ju Ye menyampaikan bahwa dengan hasil laju PDB terbaru terdapat peluang "resesi teknikal yang dangkal di kuartal ketiga tahun ini" karena tidak adanya kesepakatan antara AS dan China, dilansir Business Times.

Lebih lanjut, analis dari Citibank menambahkan jika resesi terjadi, maka akan lebih berpusat pada sektor yang bersinggungan dengan layanan perdagangan.

"Yang lebih penting, kami menduga resesi, jika itu terjadi, kemungkinan akan terkonsentrasi di (sektor) manufaktur dan layanan terkait perdagangan lainnya, daripada yang berbasis luas," ujar Kit Wei Zheng dan Ang Kai Wei, dikutip dari Business Times.

Pada hari ini investor akan mencermati rilis data penjualan ritel Negeri Singa pada pukul 12:00 WIB

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading