Dari 9 Hingga 450 Gerai, Jejak Hero di Industri Ritel

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
24 June 2019 15:21
Hero merupakan perusahaan yang memiliki sejarah cukup panjang di Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Lagi kabar mengejutkan datang dari industri ritel di Indonesia. Salah satu supermarket, Giant milik PT Hero Supermarket Tbk (HERO), kembali mengumumkan rencana penutupan enam gerai pada akhir Juli 2019.

Enam gerai Giant yang akan ditutup adalah di Cinere Mall, Mampang, Pondok Timur, Jatimakmur, Cibubur, dan Wisma Asri. Seperti yang diketahui, Giant merupakan salah satu merk supermarket di bawah naungan Hero Group.

Sejatinya, Hero merupakan perusahaan yang memiliki sejarah cukup panjang di Indonesia. Mengutip website resmi Hero, perjalanan perusahaan dimulai sejak tahun 1954.

Kala itu pendiri Hero, M.S. Kurnia bersama sang kakak, Wu Guo Chang mulai mendirikan perusahaan bernama CV Hero. Hingga tahun 1980, M.S. Kurnia berhasil membuka 9 cabang Hero Supermarket di Jakarta.


Pada era 80-an, Supermarket Hero merupakan pemain yang nyaris tanpa pesaing. Jelang masuk era 90-an, tepatnya pada tahun 1989, PT Hero Supermarket Tbk mulai melantai bursa dengan melakukan Initial Public Offering (IPO) sebesar 15% dari total sahamnya. Pada saat IPO, Hero tercatat mempunyai 26 gerai supermarket dan 3.000 penyedia barang.

Setahun berselang, yaitu pada tahun 1990, Hero mulai melebarkan lini usahanya dengan membuka unit Apotek dengan merk Guardian. Guardian mengusung konsep apotek dengan luas gerai yang tidak terlalu besar dengan menyediakan produk-produk untuk kelas menengah.

Barulah pada tahun 2002 Hero Group mulai memperkenalkan konsep hypermarket dengan merk Giant. Konsep yang diusung oleh Giant adalah hypermarket dengan barang serba ada dengan harga terjangkau, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga perabotan rumah tangga.

Sementara Hero Supermarket semakin mempertajam keunggulan untuk segmen kelas menengah ke atas dengan menjual barang-barang impor memiliki kualitas lebih tinggi. Tentunya dengan harga yang relatif lebih mahal. 

Tercatat per Akhir Juni 2018, Hero Group masih mengendalikan 450 gerai ritel antara lain:
  • 158 Giant (59 Giant Extra, 99 Giant Express, dan 3 Giant Mart)
  • 31 Hero Supermarket
  • 257 Guardian
Namun perjalanan bisnis Hero Group bukan tanpa hambatan. Sebab mulai tahun 1998, Hero memiliki saingan yang cukup besar, yaitu Carrefour yang mana merupakan peritel asal Perancis.

Sementara di tahun 2004, Hero juga kedatangan pesaing baru, yaitu Hypermart yang merupakan milik PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang juga bagian dari Lippo Group. Carrefour dan Hypermarket sama-sama mengusung konsep hypermarket, dimana variasi produk yang ditawarkan sangat beragam

Giant Tutup 6 Gerai
[Gambas:Video CNBC]

Per November 2017, sudah ada lebih dari 70 gerai Carrefour di seluruh Indonesia. Sementara jumlah gerai Hypermart mencapai 107 per Desember 2018.  Artinya dalam segi jumlah, Giant masih yang paling banyak, walaupun perbedaan di antara ketiganya tidak terlalu besar.

Alhasil, persaingan bisnis di antara pada hypermarket semakin ketat. Ketiga hypermarket tersebut memiliki model bisnis dan target market yang serupa. Tekanan yang dialami oleh Giant pun meningkat.

Sebenarnya Giant juga sudah sadar akan hal tersebut. Persaingan yang makin sesak pasti akan memaksa perusahaan untuk menambah nilai jual.

Mulai tahun 2013, bisnis Giant mengalami perubahan identitas. Giant Hypermarket menjadi Giant Extra, sedangkan Giant Supermarket menjadi Giant Express.

Dengan adanya perubahan tersebut, pembagian target pasar pun semakin jelas. Giant Extra yang lebih besar diperuntukkan untuk melayani kebutuhan belanja bulanan konsumen. Sementara Giant Express dibentuk untuk melayani kebutuhan belanja mingguan dengan cepat.

Namun lagi-lagi, bisnis adalah kegiatan yang tidak memiliki rumus. Perubahan strategi yang diambil perusahaan bisa berhasil, tapi bisa juga gagal.

Perkembangan industri digital sedikit banyak telah mengubah gaya hidup dan prilaku pasar. Transaksi jual-beli online kian marak, jasa pengantaran barang menjamur di kota-kota besar.

Itu bukan berarti kebutuhan masyarakat akan gerai ritel hilang sama sekali. Namun perubahan untuk menjawab kebutuhan pasar yang dinamis mutlak diperlukan.

TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

Duh! Pangkas 2.669 Karyawan, Rugi HERO Bengkak Jadi Rp 551 M


(taa/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading