KRAS Finalisasi Restrukturisasi Utang dengan Bank Swasta

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
17 June 2019 21:05
KRAS Finalisasi Restrukturisasi Utang dengan Bank Swasta
Jakarta, CNBC Indonesia- PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menyatakan telah menandatangani perjanjian restrukturasi utang atau master restructuring agreement (MRA) dengan Bank Himbara. Sementara itu, untuk debitur bank swasta masih dalam tahap finalisasi.

Hal ini dibenarkan Silmy Karim, Direktur Utama Krakau Steel. Ia menargetkan, pada akhir Juni ini kesepakatan dengan semua kreditor bisa segera dikantongi.

"Untuk bank Himbara sudah tanda tangan MRA (master restructuring agreement) dengan BRI, Mandiri, BNI. Sekarang sedang finalisasi dengan swasta nasional maupun asing," ungkap Silmy Karim di Gedung Krakatau Steel Jakarta, Senin (17/6/2019).



Namun, Silmy tidak menjelaskan lebih rinci mengenai skema restrukturisasi utang yang ditempuh mengingat proses negosiasi dengan bank-bank swasta masih berjalan.

"Saya belum bisa disclose kalau belum selesai, memang ada hal-hal yang kita tidak bisa omongin kalau masih dalam proses negosiasi," kata Silmy menambahkan.

Sebelumnya, salah satu kreditor KRAS yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sudah mengungkapkan mekanisme restrukturisasi yang dilakukan termasuk penerbitan obligasi konversi alias convertible bond.

Saat ini, Bank Mandiri menjadi kreditor terbesar bagi KRAS dengan kredit jangka pendek senilai US$ 225 juta atau Rp 3,17 triliun dan Rp 830 miliar. Pinjaman terbesar kepada KRAS selanjutnya diberikan oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai US$ 238,36 juta dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) sebesar US$ 199,25 juta.

"Intinya kami mendukung [restrukturisasi], Krakatau Steel ini kan industri strategis nasional dan kami melihat prospek ke depan dengan pertumbuhan demand dari sektor infrastruktur dan konstruksi harusnya masih bagus, jadi kami mendukung," kata Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (15/4/2019).

Selain melalui skema pengurangan aset dan convertible bond, Bank Mandiri juga berharap peran PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum sebagai calon perusahaan holding Krakatau Steel diharapkan akan membantu kinerja produsen baja BUMN itu.

Namun, ditegaskan Silmy Karim, holding dengan Inalum akan bisa terealiasasi bila proses restrukturiasi sudah rampung.

"Akan lebih baik begitu, setelah restrukturisasi utang, organisasi, dan lainnya selesai tentunya akan menjadi lebih baik, ketika misalnya dibungkus melalui proses holding dengan Inalum," imbuh dia.

Saat ini KRAS menghadapi masalah yang pelik. Perusahaan baja pelat merah ini mencatatkan kerugian selama tujuh tahun berturut-turut dan banyak utang jangka pendek.

Mengacu laporan keuangan KRAS 2018, tercatat utang mencapai US$ 2,49 miliar, naik 10,45% dibandingkan 2017 sebesar US$ 2,26 miliar. Utang jangka pendek yang harus dibayarkan oleh perusahaan mencapai US$ 1,59 miliar, naik 17,38% dibandingkan 2017 senilai US$ 1,36 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan utang jangka panjang sebesar US$ 899,43 juta.

Beban keuangan yang dicatatkan KRAS pada 2018 adalah sebesar US$ 112,33 juta atau setara dengan Rp 1,57 triliun (asumsi kurs Rp 14.000) tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan 2011 yang hanya US$ 40,62 juta.

Akibatnya KRAS masih harus menelan kerugian sepanjang tahun lalu, meski pendapatan naik 20% dari 2017 sebesar US$ 1,44 miliar, menjadi US$ 1,73 miliar pada 2018. Rugi bersih perusahaan tercatat US$ 74,82 juta atau Rp 1,05 triliun (kurs R 14.000), meski angka ini turun dibandingkan kerugian 2017 senilai US$ 81,74 juta.


Bisnis Air

Pada kesempatan yang sama Silmy Karim mengatakan PT Krakatau Tirta Industri (KTI), anak usaha KRAS akan membangun fasilitas pemanfaatan air laut untuk memproduksi air untuk kebutuhan industri. KTI bekerja sama dengan perusahaan petrokimia berbasis di Cilegon, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).

Silmy mengatakan, proyek pemanfaatan air laut ini diharapkan menjadi langkah yang efektif untuk memenuhi kebutuhan air bagi kebutuhan industri khususnya bagi Chandra Asri dan industri di sekitarnya.

"Ini strategi baru Perseroan untuk mendorong perkembangan bisnis anak usaha," ujar Silmy.

Dari kerja sama ini, KTI akan menjadi pemilik dari fasilitas tersebut dengan porsi kepemilikan antara 60% hingga 70%. Sementara, Chandra Asri memiliki porsi kepemilikan sebesar 30% hingga 40%. Valuasi nilai proyek ini diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun.

Hadir dalam kesempatan sama, Direktur Utama KTI Agus Nizar Vidiansyah mengatakan, saat ini KTI dan TPIA sedang melakukan uji kelayakan atau (feasibility study) dari proyek yang diperkirakan mulai beroperasi pada triwulan IV-2022.

Saat ini, Krakatau Steel masih dapat memasok air industri dari sumber-sumber air yang dimiliki perseroan. Proyek pengolahan air laut ini memiliki kapasitas produksi sebesar 800 hingga 1000 liter per second (lps).


Selain di wilayah Banten, KTI juga melakukan ekspansi ke wilayah Gresik, Jawa Timur. Mereka memperoleh tender pembangunan dan pengoperasian Sistem Pengolahan Air Minum yang diadakan oleh PDAM Giri Tirta Gresik. Proyek ini akan memiliki kapasitas 1000 liter per second dengan nilai investasi Rp618 miliar.

Sebagai gambaran, tahun lalu, KTI membukukan laba bersih sebesar Rp 161 miliar dengan total aset sekitar Rp 1 triliun dan diproyeksi bakal meningkat dengan total aset mencapai Rp 1,7 triliun. Sedangkan untuk kapasitas air produksi saat ini 2.400 liter per detik dengan target kapasitas air produksi sebesar 3.500 liter per detik di 2024.

Saksikan Video 10 Calon Emiten 2019 dengan Dana IPO Terbesar

[Gambas:Video CNBC]


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading