Anjlok 20% Lebih, Minyak Mentah Masuk Bear Market

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 June 2019 17:27
Anjlok 20% Lebih, Minyak Mentah Masuk Bear Market
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam enam pekan terakhir harga minyak mentah telah anjlok lebih dari 20% hingga mencapai level terendah sejak pertengahan Januari 2019. Penurunan tersebut membuat minyak mentah kembali masuk bear market.

Suatu aset dikatakan memasuki bear market jika turun terus menerus hingga sampai 20% atau lebih dari titik puncak yang pernah dicapai. Dalam kasus minyak mentah, titik puncak harga minyak jenis Brent yang dicapai di tahun ini di kisaran US$ 75,60 per barel pada 25 April lalu, mengutip data dari Refinitiv. Setelahnya Brent terus menurun hingga mencapai level US$ 59,45 per barel pada Rabu (5/6/19) kemarin, yang berarti terjadi penurunan 21,36% dari titik puncaknya.




Brent pada akhirnya berhasil memangkas penurunan dan mengakhiri perdagangan di level US$ 60,63 per barel atau melemah 2,16%, sementara pada hari ini Kamis (6/6/19) pukul 15:37 WIB diperdagangkan di kisaran US$ 61,13 atau menguat 0,82%.

Hal yang sama juga terjadi pada minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) yang turun lebih dari 20% dan menyentuh level US$ 50,60 per barel kemarin, mengutip laporan CNBC International.



Penguatan harga minyak mentah pada perdagangan hari ini kemungkinan dipicu technical rebound setelah turun dalam di pekan ini, Brent pada Senin (3/6/19) lalu anjlok hampir 5%.

Sang emas hitam saat ini sedang dihantui sentimen negatif dari lonjakan tingkat produksi di Amerika Serikat (AS), ditambah lagi pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan melambat, sehingga outlook permintaan minyak mentah menjadi kurang bagus.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan tingkat produksi minyak mentah di AS naik ke rekor tertinggi sepanjang sejarah sebanyak 12,4 juta barel di pekan yang berakhir 31 Mei. Di saat OPEC dan Rusia membatasi tingkat produksinya guna mendongkrak harga minyak mentah, lonjakan produksi di AS tentu menjadi kabar buruk.

Bank Dunia (World Bank/WB) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 2,6% dibandingkan proyeksi sebelumnya 2,9% menambah tekanan bagi minyak mentah. Semakin lambat pertumbuhan ekonomi, permintaan akan minyak mentah tentunya akan semakin berkurang.



Bank of America Merryl Lynch di pekan ini mengatakan pertumbuhan permintaan minyak mentah secara global di tahun ini menjadi yang terendah sejak 2012, sehingga memicu aksi jual yang terjadi belakangan ini, melansir CNBC International.

Meski demikian, 10 bank investasi yang disurvei Wall Street Journal mengabaikan anjloknya harga minyak mentah belakangan ini, dan tetap memprediksi rata-rata harga minyak Brent dekat US$ 70 per barel. Hasil survei tersebut menunjukkan hanya ada sedikit penurunan proyeksi harga rata-rata minyak Brent dari sebelumnya US$ 69,93 per barel, menjadi US$ 69,73 per barel.


TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading