Ketegangan Timur Tengah Buat Harga Minyak Melesat Pekan Ini

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
19 May 2019 - 16:02
Ketegangan Timur Tengah Buat Harga Minyak Melesat Pekan Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah yang makin memanas membuat harga minyak mentah global terdongkrak dalam sepekan.

Pada perdagangan Jumat (17/5/2019), harga minyak jenis Brent kontrak pengiriman Juli ditutup di posisi US$ 72,21, yang artinya menguat 2,25% dalam lima hari perdagangan (13-17/5/2019).

Pada waktu yang bersamaan, harga minyak light sweet (WTI) kontrak pengiriman Juni bertengger di US$ 62,76 atau naik 1,78% dalam sepekan.




Meningkatnya ketegangan yang terjadi di Timur Tengah telah membawa sejumlah kekhawatiran akan ketersediaan pasokan minyak di pasar global.

Minggu, (12/5/2019), otoritas Uni Emirat Arab (UEA) mengabarkan bahwa telah terjadi sabotase pada empat kapal tanker komersial di dekat perairan Fujairah, yang mana salah satu hub perdagangan international yang terbesar di sekitar Selat Hormuz, mengutip Reuters.

Sehari berselang, Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih mengatakan bahwa dua dari empat kapal tanker yang menjadi korban sabotase merupakan milik kerajaan dinasti Saud, mengutip Reuters.

Untungnya dalam insiden tersebut tidak ada korban jiwa maupun laporan tumpahan minyak. Namun itu cukup membuat pasar khawatir akan ketersediaan pasokan di pasar global, karena satu per lima dari konsumsi minyak dunia dikirim melalui Selat Hormuz.

Pasukan pengawal revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) juga disebut sebagai fasilitator penyerangan empat kapal tanker (termasuk 2 milik Arab Saudi) di Fujairah, UEA pada hari Minggu (12/5/2019), berdasarkan keterangan perusahaan penilai Norwegia, mengutip Reuters.

Seakan belum cukup panas, pada hari Selasa (14/5/2019) Al-Falih mengatakan telah terjadi penyerangan pada dua fasilitas di jaringan pipa minyak milik perusahaan Saudi Aramco oleh drone yang dilengkapi dengan alat peledak.

Arab Saudi menuding Iran sebagai dalang dibalik penyerangan tersebut. Menurut Arab Saudi, Iran lah yang memberi perintah kepada kelompok Houthi Yaman untuk melakukan sabotase pada fasilitas milik perusahaan Aramco.

Namun Kementerian Luar Negeri Iran membantah bahwa negaranya terlibat dalam penyerangan tersebut.

Hari Kamis (16/5/2019), Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Ibukota Yaman, Sanaa yang dikuasai oleh kelompok Houthi.

Berdasarkan laporan Reuters, serangan tersebut menargetkan sembilan basis militer di wilayah kota Sanaa. Enam penduduk, yang mana empat diantaranya merupakan anak-anak dikabarkan tewas oleh stasiun televisi Houthi, Mesirah. Sementara 60 orang lainnya luka-luka, termasuk dua wanita Rusia yang bekerja di sektor kesehatan.

Tidak hanya dengan Arab Saudi, ketegangan hubungan Iran juga semakin memanas dengan Amerika Serikat (AS). Bahkan pekan lalu AS telah menarik beberapa pegawai kedutaan besar di Baghdad, Iraq setelah insiden sabotase kapal tanker di Fujairah.

Sebelumnya, pemerintah AS telah memberlakukan sanksi penuh terhadap Iran. Negeri Paman Sam telah secara tegas melarang seluruh negara mitranya untuk membeli minyak dari Iran.

Tak hanya itu, Presiden AS, Donald Trump juga mengatakan bahwa pihaknya telah menambah jumlah kekuatan tempur militer di Timur Tengah. AS juga telah menempatkan kapal induk yang membawa pesawat tempur dan pesawat pengebom di kawasan Timur Tengah, mengutip Reuters, Minggu (5/5/2019).

Iran kemudian mengatakan bahwa tindakan tersebut merupakan 'perang psikologis' dan sebuah 'permainan politik'.

Hari Jumat (17/5/2019), Deputi Urusan Parlemen IRGC, Mphammad Saleh Jokar mengatakan bahwa "Misil jarah pendek kami [Iran] dapat dengan mudah menghantam kapal perang AS di Teluk Persia", seperti yang dikabarkan kantor berita Fars, mengutip Reuters.

Menurut Jokar, AS tidak mampu untuk membiayai perang baru dan berada dalam kondisi tidak menguntungkan dalam hal jumlah personel dan kondisi sosial.

Di Washington, pejabat senior pemerintahan AS dikabarkan tengah menunggu kabar dari Iran melalui telepon. Belum ada kabar bahwa Negeri Persia bersedia berbicara langsung dengan Trump.

Sebelumnya Trump mendesak pimpinan Iran untuk menggelar dialog atas program nuklir dan ketegangan yang terjadi antara AS-Iran.

Gejolak yang terjadi di Timur Tengah bukan tidak mungkin memicu konflik bersenjata yang lebih luas. Produksi minyak di kawasan Timur Tengah pun menghadapi ancaman yang serius.

Pelaku pasar juga masih menantikan pertemuan tingkat menteri antara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang sedianya akan berlangsung akhir pekan ini.

Pertemuan tersebut akan menentukan nasib kebijakan pengurangan produksi minyak yang telah terbukti mampu mendongkrak harga minyak lebih dari 30% sejak awal tahun 2019.



TIM RISET CNBC INDONESIA



(taa/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading