Kemarin Ngebut, Harga Minyak Habis Bensin

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
14 June 2019 09:14
Kemarin Ngebut, Harga Minyak Habis Bensin
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah melesat lebih dari 2%, harga minyak terkoreksi secara terbatas. Proyeksi pertumbuhan permintaan minyak yang melambat akibat eskalasi perang dagang AS-China masih menjadi faktor utama yang menekan harga. Meskipun demikian, ketegangan di Timur Tengah masih menjaga harga si emas hitam.

Pada perdagangan hari Jumat (14/6/2019) pukul 08:30 WIB, harga minyak mentah jenis brent kontrak pengiriman Agustus melemah 0,05% ke level US$ 61,28/barel. Adapun harga light sweet (WTI) kontrak pengiriman Juli turun 0,48% menjadi US$ 52,03/barel.

Pada posisi sekarang, harga minyak Brent dan WTI sudah terkoreksi masing-masing sebesar 3,18% dan3,63% dalam sepekan secara point-to-point.




Kemarin, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan sebesar 70.000 barel/hari menjadi 1,14 juta barel pada 2019.

"Sepanjang semester I-2019, ketegangan perdagangan global telah meningkat. Risiko penurunan yang signifikan akibat eskalasi perang dagang telah mempengaruhi pertumbuhan permintaan global," tulis laporan OPEC.

Sebelumnya, US Energy Information Adminsitration (EIA) juga telah memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2019 sebesar 160.000 barel/hari menjadi 1,22 juta barel/hari. Sementara untuk 2020, perkiraan pertumbuhan permintaan minyak juga diturunkan 110.000 barel/hari menjadi 1,42 juta barel/hari.

Sejauh ini, perang dagang AS-China masih menjadi faktor utama yang membuat proyeksi pertumbuhan permintaan minyak melambat. Bulan lalu, AS secara resmi telah mengenakan bea impor sebesar 25% pada produk China senilai US$ 200 miliar. China pun tak tinggal diam dengan mengenakan bea masuk tambahan 5%-25% pada produk made in USA senilai US$ 60 miliar.

Hingga hari ini pun, perang dagang masih berpotensi untuk tereskalasi. Trump sudah berkali-kali mengancam akan mengimplementasikan bea masuk sebesar 25% atas produk asal China senilai US$ 325 miliar yang sebelumnya bukan objek perang dagang.

Perang dagang memang acap kali menjadi momok bagi perekonomian global. Apalagi yang berseteru merupakan negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Rantai pasokan global terhambat, aktivitas industri pun menjadi lesu. Ujung-ujungnya, permintaan energi, yang salah satunya berasal dari minyak, juga akan melambat.

Akan tetapi, harga minyak juga masih mendapat sokongan dari beberapa sentimen. Teranyar, situasi Timur Tengah memanas setelah kemarin dua buah kapal tanker yang tengah mengangkut naphta dan metanol diserang di perairan Fujairah, Selat Hormuz. Meskipun tidak ada korban jiwa dan muatan yang timpang, tetapi dua kapal tersebut terbakar dan rusak parah.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuding Iran sebagai dalang dibalik penyerangan tersebut. Dirinya mengatakan bahwa kesimpulan tersebut diambil berdasarkan data intelijen, jenis senjata, dan tingkat kesulitan penyerangan.

Meskipun belakangan Iran menampik tuduhan tersebut, pelaku pasar menilai ketegangan ini akan berdampak buruk pada distribusi pasokan minyak global. Bila kondisi Timur Tengah semakin memanas, terlebih di Selat Hormuz, perusahaan-perusahaan kargo akan semakin takut untuk melakukan operasi pengiriman melalui wilayah tersebut. Diketahui bahwa seperlima konsumsi minyak global didistribusikan melalui Selat Hormuz.

OPEC dan negara penghasil minyak lainnya seperti Rusia (sering disebut OPEC+) juga masih memberi dorongan positif pada pergerakan minyak sejauh ini. Pada Desember 2018 silam, OPEC+ telah sepakat untuk memangkas produksi minyak hingga 1,2 juta barel/hari. Kuota OPEC adalah 800 ribu barel/hari.

Sementara berdasarkan data Revinitif, 11 negara OPEC telah mengurangi produksi sebesar 35% lebih banyak dari yang telah disepakati.

Organisasi tersebut diperkirakan akan melanjutkan gerakan pengurangan produksi pada semester II-2019. Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih sempat mengatakan bahwa OPEC akan terus mengurangi pasokan secara bertahap dan menjaga pasokan di level 'normal' pada paruh kedua 2019.

Namun keputusan final perihal rencana tersebut akan diteken pada pertemuan OPEC+ pada pertemuan di Wina, Austria, pada akhir Juni. Namun ada kemungkinan pertemuan diundur menjadi awal Juli, berdasarkan keterangan sumber yang dikutip dari Reuters.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(taa/taa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading