Emiten Telekomunikasi Berjatuhan, Masih Layak Dikoleksi?

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
14 May 2019 18:35
Emiten Telekomunikasi Berjatuhan, Masih Layak Dikoleksi?
Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang perdagangan bursa hari ini, Selasa (14/5/2019), dua dari tiga emiten telekomunikasi terbesar tanah air terjebak di zona merah, terseret arus pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada penutupan perdagangan hari ini harga saham PT Indosat Tbk (ISAT) anjlok 2,54%, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mencatat kontraksi 0,27%. Hanya PT XL Axiata (EXCL) yang mampu pulih dan finish di zona hijau dengan naik tipis 0,36%.



Tampaknya, pelaku pasar masih optimistis akan kinerja EXCL karena pada kuartal I-2019 perseroan menjadi satu-satunya perusahaan telekomunikasi yang berhasil mencatatkan laju pertumbuhan double digit pada pos laba bersih.


Laba bersih EXCL meroket 270,59% secara tahunan menjadi menjadi Rp 57,19 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 15,43 miliar.

Selain itu, tersiar kabar bahwa Axiata Berhad (induk usaha XL Axiata) dan raksasa telekomunikasi asal Norwegia Telenor sedang menjajaki penggabungan bisnis untuk meningkatkan penetrasi di Asia.

Lalu, apakah ini berarti di antara emiten telekomunikasi, hanya saham EXCL yang menarik untuk dikoleksi?



Laporan terbaru Fitch Ratings yang rilis pada 13 Mei menyebutkan bahwa perusahaan telekomunikasi Indonesia sudah menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal pertama 2019.

Hal ini didasarkan fakta bahwa pendapatan kuartalan dan EBITA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) ketiga perusahaan telekomunikasi terbesar tanah air naik sekitar 3% dan $% secara tahunan (YoY) pada kuartal pertama 2019.

Selain itu, rerata pendapatan data dari TLKM, EXCL, dan ISAT melonjak sekitar 25% YoY. Laju pertumbuhan tersebut adalah capaian terbesar dalam lima kuartal terakhir.

Akan tetapi, sejatinya pertumbuhan tersebut masih kalah jauh dibandingkan dengan lonjakan 62% YoY yang tercatat pada lalu lintas data (data traffic).

Lebih lanjut, Fitch memprediksi pertumbuhan pada dua kuartal berikutnya akan lebih baik, meskipun persaingan tetap ketat di pasar telekomunikasi Indonesia.

Pasalnya, ketiga perusahaan tersebut terus berinvestasi untuk meningkatkan kapasitas jaringan seluler mereka agar dapat menawarkan layanan data terbaik.



Tingkat utang perusahaan secara rata-rata juga diestimasi meningkat dikarenakan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) yang tumbuh lebih pesat dibandingkan pertumbuhan EBITDA.

Nilai capex Indosat untuk periode tahun ini mencapai Rp 10 triliun, dari sebelumnya Rp 6 triliun di tahun 2018. Sedangkan XL, menganggarkan belanja modal sebesar Rp 7,5 triliun tahun ini, naik tipis dari tahun lalu yang ada di Rp 7 triliun.

ISAT dan EXCL meningkatkan belanja modal mereka untuk memperluas kapasitas data dan ekspansi pasar di luar wilayah Jawa.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(dwa/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading