IHSG Amblas Terparah di Asia, Tapi 5 Saham Ini Cuan Gede Lho!

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
04 May 2019 14:23
IHSG Amblas Terparah di Asia, Tapi 5 Saham Ini Cuan Gede Lho!
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan ini menjadi 'pecundang' di bursa saham kawasan Asia setelah jatuh hingga 1,28% menjadi 6.319,46 poin.

Pelemahan IHSG ini terbawa sentimen negatif dari Amerika Serikat (AS) terkait hasil pernyataan The Federal Reservers/The Fed yang jauh dari nada kalem atau dovish.

Gubernur The Fed Jerome 'Jay' Powell dan kolega memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di 2,25%-2,5% seperti yang diestimasikan pasar. Namun pernyataan yang menyertai keputusan itu yang di luar dugaan.


"Kami merasa stance [posisi] kebijakan kami masih layak dipertahankan saat ini. Kami tidak melihat ada tanda-tanda yang kuat untuk menuju ke arah sebaliknya. Saya melihat kita dalam jalur yang benar," kata Powell dalam konferensi pers usai rapat, mengutip Reuters


"Pasar tenaga kerja tetap kuat. Ekonomi juga tumbuh solid. Apa yang kami putuskan hari ini sebaiknya tidak dibaca sebagai sinyal perubahan kebijakan pada masa mendatang," tegasnya.

Pernyataan The Fed yang tegas tersebut mengimplikasikan kecil kemungkinan The Fed akan mengubah arah kebijakannya. Sentimen ini kemudian menjadi suntikan adrenalin bagi investor bahwa berinvestasi pada instrumen berbasis dolar AS dalam waktu dekat masih menguntungkan.

Di lain pihak, meskipun awan mendung menyelimuti bursa saham tanah air pekan ini, masih terdapat emiten yang mampu mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan.

Sayangnya, tidak ada sentimen fundamental berarti yang mendorong lonjakan harga emiten tersebut.

Berikut saham-saham top gainers dalam sepekan (29 April-3 Mei 2019).

1. PT Tira Austenite Tbk (TIRA)
Saham PT Tira Austenite Tbk (TIRA) melesat 23,81% dalam pekan ini menjadi Rp 260/saham. Pada penutupan perdagangan Jumat kemarin (3/5/2019) kapitalisasi pasar perusahaan mencapai Rp 152,88 miliar.

Perusahaan didirikan di tahun 1971 dengan bisnis utama memasarkan produk-produk teknik dari Eropa, khususnya kawat las dan mesin las. Kemudian di tahun 1996 perusahaan melakukan diversifikasi usaha ke bisnis gas industri.


2. PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST)
FAST adalah emiten yang memegang lisensi penjualan ayam KFC di Indonesia. Dalam sepekan, harga saham perusahaan melompat 23,79% dari Rp 2.060/saham menjadi Rp 2.550/saham.

FAST mampu menorehkan kinerja yang semakin baik dari tahun lalu. Pasalnya, hingga akhir Maret 2019, perusahaan berhasil menorehkan kinerja laba bersih yang fantastis dengan naik hingga 222,44% secara tahunan menjadi Rp 50,3 miliar. Sedangkan, laba bersih tahun lalu tercatat naik 25,95% YoY menjadi Rp 212 miliar.

3. PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI)
PT Pembangunan Graha Lestari Indah (PGLI) juga berhasil menduduki posisi top gainers pekan ini dengan membukukan kenaikan 22,64%. Harga saham PGLI meningkat dari Rp 318/saham menjadi Rp 390/saham.

Perusahaan terbilang memiliki porsi yang kecil dalam IHSG, dengan kapitalisasi pasar hanya mencapai Rp 488 juta, sedangkan kapitalisasi pasar IHSG sebesar Rp 7.188 triliun.

PGLI adalah emiten yang bergerak di bidang pembangunan perhotelan yang sudah beroperasi secara komersial sejak 1994. Seiring berjalannya waktu, PGLI juga mengembangkan usaha di bidang restoran dan pembangkit listrik.


4. PT Soechi Lines Tbk (SOCI)
Salah satu emiten transportasi laut, PT Soechi Lines Tbk (SOCI), sepanjang pekan ini juga membukukan peningkatan harga saham yang cukup signifikan. Harga saham SOCI menguat 21,11% menjadi Rp 218/saham dari sebelumnya Rp 180/saham pekan lalu.

Besar kemungkinan, melesatnya harga SOCI disokong oleh pertumbuhan pendapatan kuartal I-2019 yang melejit 40,92% secara tahunan menjadi US$ 40,29 juta. Sementara itu laba perusahaan meroket 360,45% YoY menjadi US$ 6,17 juta.

5. PT Asuransi Bina Dana Arka Tbk (ABDA)
Emiten asuransi tanah air, PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk juga berhasil menjadi top gainers pekan ini dengan membukukan kenaikan harga saham sebesar 20% menjadi Rp 6.900/saham. Tidak ada sentimen positif yang mendorong kenaikan saham ini.

ABDA didirikan pada tanggal 12 Oktober 1992 dan melakukan penawaran umum perdana saham di tahun 1999. Fokus usaha perusahaan adalah asuransi umum untuk berbagai jenis pertanggungan seperti kebakaan, kendaraan bermotor, kesehatan, dan lainnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading