Kinerja Diprediksi Merugi, Saham First Media Lagi-lagi Amblas

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
29 April 2019 10:16
Kinerja Diprediksi Merugi, Saham First Media Lagi-lagi Amblas
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT First Media Tbk (KBLV), emiten penyedia layanan televisi berbayar dan provider layanan internet, kembali melorot pada perdagangan awal pekan ini, Senin (29/4/2019).

Manajemen emiten yang pesimistis akan kinerja negatif pada tahun ini menjadi katalis yang menggerakkan sahamnya ke bawah.

Pada perdagangan pukul 10.07 WIB, saham KBLV ini minus 2,65% di level Rp 440/saham, dengan volume perdagangan relatif kecil 1.600 saham dengan nilai transaksi Rp 698 juta.

Dalam sepekan terakhir saham First Media yang masuk Grup Lippo ini minus 4,35% dan secara tahun berjalan atau year to date minus hingga 37%.



Pada paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jumat pekan lalu (26/04/2019), manajemen perseroan memproyeksikan kinerja perusahaan pada tahun ini masih akan merugi seperti tahun lalu.

Pasalnya, dampak hilangnya sebagian besar pendapatan perusahaan dari layanan Broadband Wireless Access (BWA) 4G LTE, PT Internux atau lebih dikenal dengan Bolt, masih terasa.

Presiden Direktur Independen First Media, Harianda Noerlan mengatakan perseroan tengah mengupayakan perbaikan kinerja perusahaan dengan strategi memaksimalkan lini usaha lain yang dimiliki.


Namun, dia mengakui untuk memperbaiki kerugian senilai Rp 4,19 triliun pada 2018 (rugi tahun berjalan) tidaklah mudah. Untuk itu, dia memproyeksikan tahun ini perseroan masih akan merugi.

Tahun lau, First Media Tbk mencatatkan kerugian di tahun 2018 dan menjadi catatan terburuk dalam 4 tahun terakhir. Kerugian yang dikantongi perusahaan tahun lalu bertambah menjadi Rp 3,5 triliun dari tahun sebelumnya (2017) yang hanya di kisaran Rp 1,1 triliun.

Sejak izin Bolt dicabut, menurut dia, KBLV harus kehilangan sekitar 80% dari pendapatan. Pada 2019, pendapatan diproyeksikan mencapai Rp 220 miliar, merosot 75,58% dibandingkan 2018 senilai Rp 901 miliar.

"Kami akan recovery pelan-pelan, terutama dengan melihat situasi dunia usaha sekarang. Dengan proyeksi pendapatan Rp 220 triliun, kalau harus menutupi kerugian Rp 4,1 triliun, saya rasa tahun ini masih rugi," kata Harianda dalam paparan publik.



(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading