Prabowo-Sandi Kalah di Quick Count, Saham Saratoga Nyungsep

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
22 April 2019 - 10:55
Prabowo-Sandi Kalah di Quick Count, Saham Saratoga Nyungsep
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) kembali terkoreksi pada perdagangan hari Senin ini (22/4/2019). Perusahaan yang juga dimiliki oleh Sandiaga Solahudin Uno ini, tampaknya masih terdampak oleh hasil pemilihan presiden (Pilpres).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, harga saham SRTG pada perdagangan pukul 10.30 WIB, tercatat terkoreksi 2,65% ke level harga Rp 3.680/saham.

Volume perdagangan saham ini sebenarnya tidak terlalu besar hanya 21.500 dengan nilai transaksi Rp 79,77 juta.


Salah satu pemegang saham SRTG, Sandiaga Uno, merupakan calon wakil presiden pasangan nomor urut 02 bersama dengan Prabowo Subianto.

Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) pasangan 02 tertinggal dari pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Sejak Kamis pekan lalu, saat quick count disampaikan sejumlah lembaga survei, harga saham SRTG tercatat terus terkoreksi. Secara year to date harga saham SRTG tercatat terkoreksi 3,16%.

Sandiaga juga tercatat beberapa kali melalukan penjualan saham SRTG miliknya. Penjualan saham dilakukan mantan wakil gubernur DKI Jakarta ini sejak awal Oktober 2018.

Ketika dikonfirmasi langsung pada Desember, dia mengakui bahwa penjualan repetitif ini dilakukan untuk membiayai kampanye dia dan pasangan calonnya untuk menduduki posisi orang nomor satu dan nomor dua di republik ini.

Berdasarkan data laporan kepemilikan saham SRTG sebelum dilakukannya penjualan Sandiaga masih menjadi salah satu pemegang saham dengan kepemilikan terbesar yakni sebanyak 754,11 juta saham atau setara dengan 27,79%.

Selain itu, beberapa waktu lalu manajemen SRTG menyampaikan akan membeli kembali (buyback) maksimal 20 juta unit saham yang beredar di publik dengan mengalokasikan dana sebesar Rp 110 miliar.

Pembelian kembali sekitar 0,737% saham perusahaan rencananya dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan (RUPSLB) yang akan dilangsungkan pada 22 Mei 2019 dan RUPS Tahunan paling lambat 30 Juni 2020.

Aksi ini dilakukan sehubungan dengan pelaksanaan Program Insentif Jangka Panjang kepada karyawan SRTG. Lebih Lanjut, pihak perusahaan juga menyatakan bahwa harga saham saat ini belum mencerminkan nilai/kinerja yang sesungguhnya, walaupun SRTG telah menunjukkan kinerja yang bagus.

SRTG juga mengumumkan bahwa aksi buyback ini tidak akan memberikan dampak terhadap penurunan pendapatan perusahaan.

Dari kinerja keuangan, sepanjang 2018, SRTG membukukan rugi bersih hingga Rp 6,19 triliun dari sebelumnya untung sebesar Rp 3,16 triliun di tahun 2017.

Momok kerugian perusahaan adalah kegagalan SRTG mencatatkan untung atas investasi pada efek ekuitas yang merupakan pemasukan utama perusahaan.

Saratoga, tahun lalu, mencatat kerugian atas transaksi investasi pada efek ekuitas sebesar Rp 7,25 triliun. Mau tidak mau, total pendapatan perusahaan terpaksa tertekan dan harus rela mencatatkan rugi pendapatan Rp 6,03 triliun. 

Ini berarti, untuk pertama kalinya setidaknya sejak tahun 2010, SRTG mencatatkan rugi pada pos total pendapatan.

(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading