Jelang Pilpres 2019, Ini Rekomendasi DBS Soal Investasi

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
10 April 2019 15:41
Jelang Pilpres 2019, Ini Rekomendasi DBS Soal Investasi
Jakarta, CNBC IndonesiaDBS Group Research merekomendasi beberapa kebijakan di bidang perdagangan dan investasi yang dapat segera diimplementasikan pemerintah guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

Rekomendasi ini juga disampaikan berkaitan dengan kian dekatnya momen Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 17 April mendatang yang akan diikuti dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yakni Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Rekomendasi dari grup keuangan global yang berbasis di Singapura itu diharapkan bisa menjadi patokan dalam menyusun kebijakan di bidang perdagangan dan investasi bagi siapa pun pemenang Pilpres 2019.


Berikut rekomendasi yang disampaikan Masyita Crystallin, Economist DBS Group Research untuk Indonesia dan Filipina, dalam forum "Diskusi 100 Ekonom Perempuan Memandang Indonesia Ke Depan":

1. Melanjutkan reformasi BBM dan pemenuhan target energi terbarukan untuk mengurangi defisit perdagangan di bidang energi.
2. 
Diversifikasi struktur ekspor dari kebergantungan terhadap ekspor komoditas.
3. Meningkatkan ekspor dengan nilai tambah tinggi
4. Revitalisasi sektor manufaktur berorientasi ekspor dengan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar
5. Melanjutkan reformasi struktural terutama di bidang  infrastruktur untuk menekan biaya logistik lebih lanjut
6. Melanjutkan akselerasi sektor pariwisata dengan fokus tidak hanya meningkatkan jumlah wisatawan namun juga pengeluaran rata-rata wisatawan.
7. Meningkatkan produktivitas melalui pendidikan vokasi dan pelatihan yang tepat guna.
8. Mempermudah penanaman modal dengan melanjutkan proses simplifikasi perijinan antar lembaga dan antar daerah

Masyita mengatakan tantangan di bidang perdagangan dan investasi masih diwarnai beberapa persoalan, di antaranya bagaimana meningkatkan proporsi investasi langsung karena berkorelasi kuat dengan transfer teknologi.

Selain itu, peringkat Ease of Doing Business atau kemudahan berusaha di Indonesia sudah meningkat namun masih relatif rendah dibandingkan negara berkembang lain.


Dalam laporan Doing Business 2019 yang dirilis Bank Dunia pada Oktober 2018, Indonesia meraih indeks 67,96 atau naik 1,42 dibandingkan tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, kata Masyita, tantangan lain ialah bagaimana pemerintah bisa m
enurunkan biaya logistik, yang sudah menunjukkan peningkatan dilihat dari Logistic Performance Index (LPI).


"Proporsi kepemilikan asing yang cukup signifikan dalam investasi portofolio juga dapat meningkatkan volatilitas aliran modal masuk. Tantangan lain yakni mengurangi kebergantungan terhadap ekspor komoditas dan meningkatkan diversifikasi dan kompleksitas ekspor," katanya kepada CNBC Indonesia, Rabu (10/4/2019).

Tak hanya itu, Mashita menjelaskan tantangan lain ialah m
eningkatkan proporsi ekspor dengan nilai tambah yang tinggi, meningkatkan produktivitas di berbagai sektor, dan mengurangi defisit perdagangan di bidang energi.

Pada Februari 2019, DBS Group Research sebelumnya menetapkan rekomendasi 'netral' untuk prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah pesta demokrasi Pilpres yang akan digelar 17 April mendatang. Pilpres diprediksi memberikan stabilitas kepada pemerintah.
(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading