Analisis Fundamental

Memotret Kinerja Emiten Properti 2018, Siapa Jawaranya?

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
02 April 2019 18:37
Memotret Kinerja Emiten Properti 2018, Siapa Jawaranya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor properti menjadi salah satu industri yang turut menjadi incaran investor di Bursa Efek Indonesia (BEI). Beberapa emiten yang menjadi pengembang properti skala nasional bahkan mewarnai perdagangan di bursa pada awal April ini.

Dari saham-saham properti itu, ada yang masuk daftar top gainer yang sahamnya melesat, ada pula emiten properti yang laris manis diborong investor asing (net buy).

Lalu, sebenarnya bagaimana potret kinerja keuangan emiten properti di tahun 2018?


Tim Riset CNBC Indonesia merangkum kinerja delapan perusahaan properti yang memiliki total aset terbesar di antara total 57 pengembang properti yang terdaftar di BEI. Berikut datanya:





Berdasarkan data di atas, terdapat empat emiten yang mencatatkan lonjakan laba bersih, sedangkan empat lain malah membukukan penurunan laba, bahkan ada yang anjlok hingga 98% year on year (YoY).

Adapun empat emiten yang labanya melonjak yakni PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR).


Kinerja terbaik dibukukan oleh Pakuwon Jati. Total penjualan naik 23,16% YoY menjadi Rp 7,08 triliun, sedangkan laba bersih juga tumbuh 35,78% YoY menjadi Rp 2,54 triliun.

Peningkatan penjualan PWON disokong pertumbuhan signifikan pada pos penjualan tanah yang meroket 76,85% YoY. Kemudian diikuti bisnis sewa dan jasa pemeliharaan, hotel hingga kondominum serta kantor, yang jika ditotal menyumbangkan sekitar 70% pendapatan.

Selain PWON, berikutnya adalah Ciputra Development. Laba CTRA melesat 32,55% YoY menjadi Rp 1,19 triliun, begitu pun Summarecon Agung yang labanya melonjak 23,93% YoY menjadi Rp 448,71 miliar. Terakhir, LPKR yang labanya naik 13,18% YoY menjadi Rp 695,15 miliar.


Empat Merugi
Di lain pihak, empat emiten menorehkan kinerja terburuk dengan laba melorot. Penurunan terbesar laba dialami PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) yang labanya terjun bebas 97,85% YoY menjadi hanya Rp 29,56 miliar. Dengan demikian, tahun 2018, APLN hanya manorehkan marjin bersih 0,59%.

Penurunan terbesar kedua atas laba juga dialami PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yakni minus 74%. Dari sisi pertumbuhan penjualan, BSDE bahkan penjualannya anjlok 35,94% YoY menjadi hanya Rp 6,63 triliun.

Amblasnya pendapatan BSDE karena adanya penurunan signifikan pada pos penjualan tanah dan bangunan, serta hotel. Kinerja keuangan semakin diperparah dengan tingginya beban bunga dan keuangan di tahun 2018 yang naik hingga 66,12% YoY.

Dua emiten sisanya yakni PT Intiland Development Tbk (DILD) dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) masing-masing labanya minus 32% dan 30%.

Lebih lanjut, bagaimana sebenarnya apresiasi investor terhadap delapan emiten tersebut?

Tolak ukur umum untuk mengukur apresiasi investor terhadap kinerja emiten adalah dengan menggunakan price-earning-ratio/PER.

Sebagai informasi PER adalah salah satu bentuk analisis fundamental perusahaan dengan cara membagi harga saham saat ini dengan keuntungan tahunan per saham. Jadi PER dapat menggambarkan juga ekspektasi investor terhadap return (perolehan) emiten.


PER emiten dikatakan tinggi (overvalued) jika nilainya lebih besar dibanding PER Industri, dan sebaliknya untuk PER rendah. Namun beberapa analis menyatakan bahwa emiten yang overvalue bisa bermakna investor punya ekspektasi atas pertumbuhan kinerja perusahaan ke depan.




Melansir data statistik yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI), PER rata-rata untuk sektor industri properti ada di 26 kali.

Ini berarti, ada dua emiten yang memiliki harga saham yang dibilang tinggi, yaitu APLN dan SMRA karena perolehan PER-nya masing-masing sebesar 108,5 kali dan 32,64 kali. Sebagai informasi, PER APLN sebelumnya hanya di level 7,90 kali, karena terjadi perubahan harga per saham.

Dengan demikian, berdasarkan analisis fundamental, ada kemungkinan bahwa harga saham kedua emiten tersebut masih akan terkoreksi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading