Polling CNBC Indonesia

Rekor, Neraca Dagang RI Menuju Defisit 5 Bulan Beruntun!

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
14 March 2019 14:17
Rekor, Neraca Dagang RI Menuju Defisit 5 Bulan Beruntun! Ilustrasi aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2019 diperkirakan kembali mencatat defisit. Ini membuat nasib transaksi berjalan kuartal I-2019 menjadi penuh ketidakpastian. 

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data perdagangan internasional Indonesia periode Februari 2019 pada esok pagi. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekspor terkontraksi alias minus 4,26% year-on-year (YoY), impor naik tipis 0,4% YoY, dan neraca perdagangan minus US$ 841 juta. 

Institusi Pertumbuhan Ekspor (%YoY) Pertumbuhan Impor (%YoY) Neraca Perdagangan (US$ Juta)
ING 2.8 2.7 -100
Moody's Analytics - - -980
Barclays -11 -5 -900
Bank Permata -4.7 0.87 -841
Danareksa Research Institute -4.05 1.96 -903.1
CIMB Niaga -10 -5 -760
ANZ -5 -1.5 -980
Maybank Indonesia -4.12 1.78 -888
Bank Danamon -4 0.5 -687
BCA 2.6 0.3 282
Bahana Sekuritas -0.55 0.03 -65
Standard Chartered -5.7 0.5 -924
BTN -4.4 -5.2 992
MEDIAN -4.26 0.4 -841
 
Jika realisasinya sesuai dengan ekspektasi, maka sebenarnya ada perbaikan ketimbang Januari 2019. Saat itu, ekspor turun 4,7%, impor turun 1,83%, dan neraca perdagangan defisit US$ 1,16 miliar. 


Namun, perlu dicatat bahwa apabila Februari kembali defisit maka neraca perdagangan Indonesia akan mengalami tekor selama 5 bulan beruntun. Ini akan menjadi rekor baru rentetan defisit terpanjang, sebelumnya maksimal hanya 4 bulan beruntun yang terjadi pada Agustus-November 2014. 



Selain itu, yang juga patut menjadi catatan adalah nasib transaksi berjalan (current account) kuartal I-2019. Dengan neraca perdagangan yang defisit pada Januari, plus kemungkinan terulang pada Februari, maka sepertinya defisit transaksi berjalan akan tetap lebar. 

Pada kuartal IV-2018, defisit transaksi berjalan adalah 3,57% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebagai gambaran, saat itu neraca perdagangan tiga kali membukukan defisit. Sesuatu yang bisa terulang lagi pada kuartal I-2019. 

 

Transaksi berjalan adalah fondasi penting bagi stabilitas nilai tukar. Tanpa transaksi berjalan yang kuat, rupiah akan rawan terdepresiasi. 

Investor bisa saja menjadi enggan untuk mengoleksi aset berbasis rupiah, karena khawatir nilainya akan turun pada kemudian hari. Risiko aksi jual akan terus membayangi rupiah jika masalah di transaksi berjalan tidak kunjung dipecahkan.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading