Newsletter

Ekonomi Global Kian Gloomy

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
01 March 2019 05:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia menjalani periode yang sulit pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, dan harga obligasi seluruhnya melemah. 

Kemarin, IHSG ditutup anjlok 1,26%. IHSG bergerak searah dengan bursa saham utama Asia yang juga ditutup di zona merah. Indeks Nikkei 225 turun 0,79%, Hang Seng melemah 0,43%, Shanghai Composite minus 0,44%, Kospi amblas 1,76%, dan Straits Times ambrol 1,15%. 


Sementara rupiah mengakhiri perdagangan pasar spot dengan depresiasi 0,25% di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah menjadi mata uang terlemah kedua di Asia, hanya lebih baik ketimbang won Korea Selatan. 



Kemudian imbal hasil (yield) obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun naik 0,6 basis poin. Kenaikan yield adalah pertanda harga instrumen ini sedang terkoreksi karena sepinya peminat atau bahkan ada aksi jual. 

Faktor utama penyebab koreksi massal di pasar keuangan Asia adalah kekhawatiran investor terhadap prospek damai dagang AS-China. Dalam paparannya di hadapan Komite Perpajakan Komite Perpajakan House of Representatives (House Ways and Means Committee), Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer menegaskan bahwa sebuah negosiasi tidak akan begitu saja mengubah hubungan dagang kedua negara. 

"Kenyataannya adalah ini menjadi tantangan yang berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Saya tidak cukup bodoh untuk percaya satu negosiasi bisa mengubahnya," kata Lighthizer, mengutip Reuters. 

Apabila AS-China sampai batal mencapai kesepakatan dagang, lanjut Lighthizer, maka dirinya tidak akan segan untuk kembali menaikkan bea masuk. Sebab bea masuk adalah satu-satunya alat untuk menekan China agar melakukan reformasi struktural. 

"Jika ada ketidaksepakatan, maka AS akan bertindak proporsional," tegasnya. 

Reformasi struktural di China, menurut Lighthizer, bukan soal Negeri Tirai Bambu membeli lebih banyak produk made in USA. Beberapa hal yang harus diselesaikan adalah penghentian pemaksaan transfer teknologi terhadap perusahaan asing yang beroperasi di China atau manipulasi kurs untuk mendongrak kinerja ekspor. 

"Saya tidak yakin kalau ini (China membeli lebih banyak produk AS) akan menyelesaikan masalah. Kami akan menuntaskan ini (hubungan dengan China) dengan satu mata yang mengarah ke masa depan," kata Lighthizer. 

Investor yang sudah sempat sangat yakin dengan prospek damai dagang AS-China seakan tersambar petir. Ternyata masih ada risiko kesepakatan dagang bisa gagal, dan dua kekuatan ekonomi terbesar di bumi kembali terlibat perang dagang.  

Merespons pernyataan Lighthizer, investor berbondong keluar dari aset-aset berisiko di Asia. Arus modal pun kembali menyemut di instrumen aman seperti dolar AS.  


(BERLANJUT KE HALAMAN 2)


'Hujan' Sentimen Negatif, Wall Street Merah
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading