Ini Alasan Freeport Sulit Listing di BEI

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
27 February 2019 17:35
Ini Alasan Freeport Sulit Listing di BEI
Jakarta, CNBC Indonesia - Divestasi saham PT Freeport Indonesia di Bursa Efek Indonesia melalui mekanisme penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) dinilai tidak tepat dan kurang cermat karena mekanisme IPO tidak pernah dianjurkan oleh UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara.

Peneliti Alpha Research Database Ferdy Hasiman mengatakan jika Freeport dilepas lewat mekanisme IPO maka yang untung hanya investor dengan dana besar.

"Pelaku pasar modal hanya 0,6 % penduduk Indonesia. Sudah begitu, banyak investor yang beli saham di pasar modal juga adalah investor asing. Itu makanya kalau krisis di Indonesia, ada capital outflow besar-besaran," kata Ferdy dalam keterangannya kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Rabu (27/2/2019).


Jika melalui IPO, kata Ferdy, saham Freeport akan menjadi rebutan pengusaha lokal yang memiliki banyak uang dan menjadi incaran para politisi. Dia menilai pengalaman pelepasan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) adalah contoh argumentasi itu didasarkan.

"Pada IPO saham Garuda, mantan bendahara Partai Demokrat, M. Nazarudin memborong 400 juta saham atau Rp 300 miliar yang dilakukan lima perusahaan miliknya. IPO saham GIAA hanya satu dari sederet penawaran saham yang dilakukan perusahaan-perusahaan BUMN," kata penulis buku Freeport: Bisnis Orang Kuat Vs Kedaulatan Negara ini.

"Masih banyak kasus korupsi dalam melakukan penawaran saham, seperti IPO perusahaan baja milik negara PT Krakatau Steel Tbk," katanya.

Menurut dia IPO saham sebenarnya langkah bagus agar partisipasi rakyat Indonesia dalam mengontrol kinerja Freeport semakin besar. Publik makin berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Persoalannya, kata Ferdy, publik yang berharap mendapat jatah saham Freeport Indonesia bisa gigit jari, karena tak kebagian jatah.

BEI pun terus mendorong perusahaan-perusahaan besar yang mengolah sumber daya alam (SDA) atau sektor pertambangan, batu bara, dan migas bisa mencatatkan sahamnya di bursa saham domestik. Bahkan BEI pernah mewacanakan akan mendorong Freeport dan Wilmar international untuk bisa menjadi perusahaan tercatat sehingga diharapkan bisa lebih mendorong nilai kapitalisasi pasar.

Saat ini, Freeport tercatat sebagai perusahaan publik di bursa saham Amerika Serikat, sedangkan Wilmar International tercatat di bursa saham Singapura, padahal kedua perusahaan tersebut mengolah sumber daya alam di Indonesia.

"Bisa saja ke depan kita dorong mereka untuk listed di sini, dengan sosialisasi. Ya namanya mereka perusahaan berdomisili di Indonesia, seyogyanya mereka listed juga di Indonesia," kata Direktur Utama BEI Inarno Djajadi.

Foto: Penandatanganan Sales & Purchase Agreement antara PT Inalum, PT Freeport-McMoRan Inc dan PT Rio Tinto Indonesia (CNBC Indonesia/Lidya Julita S)

Pemerintah Indonesia melalui perusahaan negara, PT Indonesia Asahan Alumina (Inalum) resmi mengontrol mayoritas (51,23%) saham Freeport Indonesia yang menambang tembaga dan emas di Grasberg, Papua ini. Penguasaan ini ditandai dengan tuntasnya pembayaran divestasi Freeport senilai US$ 3,85 miliar oleh holding BUMN tambang, Inalum, pada 21 Desember 2018.

Sebelum membeli 51% saham Freeport, perusahaan tambang BUMN telah melakukan konsolidasi dengan membentuk perusahaan holding di bawah bendera Inalum dengan sub-holding (PT Timah Tbk, PT Aneka Tambang Tbk dan PT Bukit Asam Tbk atau PTBA).

"Jika digabung, total aset Inalum Rp 86 triliun. Itu memudahkan Inalum mendapat pinjaman bank dan melakukan ekspansi bisnis. Di tambah cash flow [arus kas] anak usaha yakni PTBA 2018 Rp 4,45 triliun, Timah Rp 1,29 triliun yang besar, memudahkan Inalum membeli saham Freeport."

Jika tuntas membeli 51% saham Freeport, kata Ferdy, total aset Inalum jika dihitung bisa mencapai "Rp 180 triliun.

"Dana pinjaman untuk membeli saham Freeport akan tertutup oleh laba bersih Freeport yang rata-rata di atas US$ 2 miliar per tahun setelah 2022. Apalagi tambang underground, 93% total cadangan Freeport di underground, mulai berproduksi tahun 2019."


Simak pernyataan Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin soal investasi sebesar US$ 1,4 miliar di Freeport.
[Gambas:Video CNBC] (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading