Bank Permata Cetak Laba Rp 901 M di 2018, Naik 20%

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
21 February 2019 18:28
Bank Permata Cetak Laba Rp 901 M di 2018, Naik 20%
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 901,25 miliar sepanjang tahun 2018 atau naik 20% year on year (YoY) dari tahun 2017 sebesar Rp 748,43 miliar.

Ridha DM Wirakusumah, Direktur Utama Bank Permata, mengatakan pencapaian positif ini didukung kuat oleh pertumbuhan aset good book, peningkatan kualitas aset, pemulihan kredit bermasalah dengan cara restrukturisasi dan likuidasi, serta keberhasilan perseroan menjaga efisiensi biaya operasional secara disiplin.

"Kami berhasil mencetak pertumbuhan laba yang signifikan, laju kredit yang kuat, peningkatan kualitas aset yang membaik, tingkat likuiditas yang optimal serta rasio modal yang kuat," kata Ridha dalam siaran pers, Kamis (21/2/2019).


Sepanjang tahun lalu, bank yang sahamnya dominan dimiliki Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk (ASII) ini membukukan pertumbuhan kredit positif sebesar 9% (yoy) dari Rp 97,6 triliun menjadi Rp 106,6 triliun. Kontribusi kredit disumbang dari dua segmen bisnis Bank Permata yakni Retail Banking sebesar 9% dan Wholesale Banking 10%.

Dari sisi kualitas aset produktif, pertumbuhan kredit difokuskan pada portofolio kredit yang berkualitas baik, sehingga rata-rata tertimbang credit grade portofolio kredit korporasi membaik secara signifikan.

Tak hanya itu, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) juga berada di 3% menjadi Rp 5,6 triliun pada akhir Q4 2018, terutama disebabkan membaiknya kualitas aset dan pengelolaan struktur aset serta liabilitas yang lebih baik. Dengan begitu, perseroan bisa mencetak kinerja rasio NIM (Net Interest Margin) menjadi 4,1% tahun lalu, dibandingkan 4,0% pada 2017.

Adapun l
aba sebelum pajak BNLI naik 28% (yoy) menjadi Rp 1,2 triliun, didorong biaya pencadangan kredit yang lebih rendah 46% menjadi Rp 1,7 triliun, dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar Rp3,1 triliun.

"Penurunan biaya pencadangan kredit dikontribusikan oleh pertumbuhan kredit yang sehat dan keberhasilan perseroan dalam upaya penagihan, penyelesaian dan likuidasi kredit bermasalah dengan imbal hasil yang lebih baik."

Di sisi lain, Bank Permata bisa menjaga rasio kredit bermasalah atau NPL di bawah ketentuan regulator. Rasio NPL gross dan NPL net per Desember 2018 membaik menjadi 4,4% dan 1,7% dibandingkan dengan Desember 2017 sebesar 4,6% dan 1,7%. "Perbaikan NPL dicapai dengan adanya restrukturisasi kredit bermasalah, penghapusan kredit, penjualan sebagian kredit NPL dan pertumbuhan kredit good book."

Ridha mengatakan kendati pasar mengalami tekanan likuiditas yang cukup signifikan sejak semester kedua tahun lalu, perseroan tetap menjaga posisi likuiditas dengan kuat. Loan to Deposit Ratio (LDR) BNLI naik menjadi 90%, dibandingkan posisi Desember 2017 sebesar 88% dan dari posisi Juni 2018 sebesar 86%.

Simpanan nasabah (DPK) tumbuh sebesar 6,1% Yoy, rasio Common Equity Tier 1 dan Capital Adequacy Ratio (CAR) masing-masing 17,6% dan 19,4% meningkat dibandingkan angka dari 2017 sebesar 15,2% dan 18,1%. Penguatan modal terutama dikontribusikan oleh divestasi PT Astra Sedaya Finance, dan peningkatan profitabilitas.


Simak ulasan Bank Permata yang dilirik asing.
[Gambas:Video CNBC]


(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading