Data Ekonomi & Risalah The Fed Bawa Bursa Saham Asia Melemah

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
21 February 2019 18:22
Data Ekonomi & Risalah The Fed Bawa Bursa Saham Asia Melemah
Jakarta, CNBC Indonesia - Sempat menghijau, mayoritas bursa saham utama kawasan Asia harus puas mengakhiri hari di zona merah: indeks Shanghai turun 0,34%, indeks Straits Times turun 0,01%, dan indeks Kospi turun 0,05%.

Rilis data ekonomi yang tak mendukung sukses menekan kinerja bursa saham Benua Kuning. Pada pagi hari, pembacaan awal untuk data Nikkei Manufacturing PMI Jepang periode Februari diumumkan di level 48,5, lebih rendah dibandingkan konsensus yang sebesar 50,4, seperti dilansir dari Trading Economics.

Angka di bawah 50 menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur Jepang mengalami kontraksi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.


Di sisi lain, kala perlambatan ekonomi dunia kian nyata terlihat, The Federal Reserve justru membuka peluang untuk kembali mengeksekusi kenaikan suku bunga acuan. Hal ini terungkap pasca bank sentral AS tersebut merilis risalah dari pertemuan edisi Januari 2019.

"Banyak peserta rapat berpandangan bahwa menahan suku bunga acuan di tingkat yang sekarang untuk beberapa waktu bisa menimbulkan risiko. Oleh karena itu, jika ketidakpastian berkurang maka The Fed perlu meninjau kembali stance sabarnya," sebut risalah rapat The Fed.

Sejatinya, ada kabar positif yang mewarnai jalannya perdagangan bursa saham regional yakni AS dan China yang kian dekat dalam mencapai kesepakatan dagang.

Reuters memberitakan bahwa AS dan China sudah mulai menyusun nota kesepahaman untuk mengakhiri perang dagang yang sudah berjalan selama 7 bulan.

Delegasi kedua negara kini menyusun sebanyak 6 nota kesepahaman yang mencakup berbagai isu yakni pemaksaan transfer teknologi & pencurian kekayaan intelektual, hak kekayaan intelektual, sektor jasa, nilai tukar, agrikultur, dan halangan non-tarif (non-tariff barrier) di bidang perdagangan, menurut 2 orang sumber yang mengetahui masalah tersebut, seperti dilansir dari Reuters.

Kedua negara ingin mencapai kesepakatan paling lambat pada tanggal 1 Maret, yang merupakan tanggal berakhirnya periode gencatan senjata bidang perdagangan antara AS dan China.

Sayang, kekhawatiran mengenai normalisasi suku bunga acuan oleh The Fed di tengah-tengah perlambatan ekonomi dunia lebih dominan dalam mendikte pergerakan bursa saham Asia.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading