Rupiah Tak Lagi Terlemah di Asia, Untung Ada Yuan...

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
11 February 2019 16:40
Damai Dagang Tak Jelas, Dolar AS Jadi Buruan

Damai Dagang Tak Jelas, Dolar AS Jadi Buruan

Terlihat bahwa sore ini dolar AS mampu menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama Asia. Hanya baht Thailand yang mampu selamat, sementara lainnya terjerembab ke zona merah. 

Maklum saja, dolar AS memang sedang menguat secara global. Pada pukul 16:16 WIB, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,14%.  

Dolar AS masih dalam tren menguat dan belum berhenti hingga hari ini. Dalam sepekan terakhir, Dollar Index menguat 0,96% dan selama sebulan terakhir penguatannya mencapai 1,13%. 


 

Dolar AS memperoleh kekuatannya akibat nasib damai dagang AS-China yang masih samar-samar. Hari ini menjadi kick-off dari rangkaian dialog dagang di Beijing, yang dimulai dari pembicaraan tingkat wakil menteri dan berlanjut ke level menteri pada Kamis-Jumat. Delegasi AS dipimpin oleh Kepala Perwakilan Dagang Robert Lighthizer yang didampingi oleh sejumlah pejabat seperti Menteri Keuangan Steven Mnuchin. 

Namun pelaku pasar dan dunia usaha pesimistis pertemuan di Beijing ini bakal menghasilkan sesuatu yang signifikan. Sebab, memang banyak hal yang harus diselesaikan untuk mengakhiri perbedaan antara Washington dan Beijing. 

"Ada indikasi bahwa pemimpin kedua negara bersedia untuk menyelesaikan semua hambatan. Namun kami juga mendengar bahwa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya memperkirakan kedua pihak tidak menghasilkan sesuatu pekan depan," tegas Erin Ennis, Senior Vice President US-China Business Council, mengutip Reuters. 


Aura pesimisme pun merebak. Pelaku pasar khawatir, jangan-jangan Washington dan Beijing gagal mencapai kesepakatan sebelum 1 Maret, tenggat waktu 'gencatan senjata' 90 hari yang disepakati di Argentina awal Desember 2018. 

Jika sampai 1 Maret tidak ada kesepakatan, maka AS akan menaikkan bea masuk dari 10% menjadi 25% untuk importasi produk-produk made in China senilai US$ 200 miliar. Ketika ini terjadi, besar kemungkinan China akan melancarkan serangan balasan. Perang dagang pun kembali berkobar. 

Harapan damai dagang AS-China yang kembali buram membuat investor kembali memasang mode wait and see. Pelaku pasar memiih berhati-hati sembari menunggu perkembangan dari Beijing. 

Sikap hati-hati ini ditunjukkan dengan aliran modal yang masih mengarah ke dolar AS. Pemilik modal masih suka bermain aman, ogah mengambil risiko di pasar keuangan negara-negara berkembang Asia. 


(BERLANJUT KE HALAMAN 3)


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading