Sumitomo Sudah Akrab dengan Blue Bird Sejak 2016

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
07 February 2019 10:37
Sumitomo Sudah Akrab dengan Blue Bird Sejak 2016
Jakarta, CNBC Indonesia - Meskipun baru dinyatakan menjadi pemegang saham baru PT Blue Bird Tbk (BIRD), Sumitomo Group sudah menjalin kerja sama dengan emiten taksi biru tersebut sejak lama. 

Relasi antara Sumitomo Group dengan PT Blue Bird Tbk (BIRD) ternyata sudah terjadi sejak 2016 melalui fasilias pinjaman hingga Rp 1,5 triliun. 

Tercatat pada laporan keuangan 2016 emiten, BIRD mendapatkan fasilitas "loan on note " (bridging loan) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia dengan jumlah maksimal Rp 500 miliar. 
Fasilitas yang kontraknya ditandatangani pada 21 November 2016 itu peruntukannya bagi pembiayaan umum perusahaan termasuk modal kerja. 


Jangka waktu ketersediaan fasilitas tersebut telah diperpanjang hingga 30 November 2018 dan bertenor 3 bulan sejak penarikan.  

Tingkat bunga efektif yang dibebankan 1,25% per tahun ditambah biaya dana (cost of fund) yang besarannya tergantung dari bank kreditur tersebut. 

Sebagai gambaran, rerata cost of fund dua bank BUMN kelas bank umum kelompok usaha IV (BUKU IV, kelas paling besar) pada 2018 berada pada 2,85%. 

Dengan status sebagai bank asal Jepang, bunga pinjaman Bank Sumitomo terhadap BIRD dapat lebih kecil daripada 4,1%, angka pinjaman yang dimiliki kedua bank pelat merah tadi. Sampai dengan akhir 2017, belum ada pinjaman yang ditarik perusahaan yang dipimpin Purnomo Prawiro tersebut. 

Selanjutnya, pada 11 Oktober 2017, perseroan melakukan perjanjian fasilitas "loan on certificate" (bridging loan) dengan jumlah maksimal Rp 1 triliun guna penambahan armada baru.  

Tenor pinjaman ini adalah 4 tahun, dengan bunga efektif 8,25% per tahun ditambah cost of fund. Bunga tersebut, jika ditambah dengan asumsi cost of fund dua bank BUMN tadi akan menjadi sekitar 11,1% per tahun. 

Hingga akhir September 2018, jumlah fasilitas dari Sumitomo yang sudah ditarik Blue Bird melalui lima anak usahanya adalah Rp 144,63 miliar. 

Fasilitas pinjaman itu memiliki batasan tersendiri yang harus dijaga BIRD sebagai debitur, yaitu minimal debt service coverage ratio sebanyak 1 kali dan minimal EBITDA to interest coverage ratio sebanyak 3 kali.  

Per akhir September 2018, emiten hanya memiliki total kewajiban Rp 1,63 triliun, terbagi ke dalam kewajiban jangka pendek Rp 614,64 miliar dan kewajiban jangka panjang Rp 1,02 triliun.  

Jumlah kewajiban tersebut masih lebih kecil dari aset perseroan yang jumlahnya Rp 6,77 triliun, terdiri dari aset lancar Rp 1,01 triliun dan aset tidak lancar Rp 5,76 triliun. 

Tingkat kewajiban perseroan tersebut masih sangat aman karena jumlah kas perseroan Rp 604,87 miliar masih lebih besar daripada utang bank dengan bagian jangka pendek Rp 270,95 miliar dan utang usaha Rp 163,11 miliar.  

Secara teoritis, rasio lancar (current ratio) perseroan juga masih 1,64 kali, masih di atas batas aman 1 kali, yang mencerminkan kemampuan perseroan melunasi kewajiban jangka pendek dan jangka panjangnya.  

Arus kas operasional perseroan juga masih di tingkat sehat, yaitu 1,2 kali, masih di atas batas aman 1 kali. 

Siang ini, saham BIRD naik 9,22% ke Rp 3.080 per saham dan membentuk kapitalisasi pasarnya Rp 7,7 triliun.


Pinjaman Blue Bird ke Bank Sumitomo Mitsui
Anak usaha Blue BirdBagian Jangka Pendek (Rp juta)Bagian Jangka Panjang (Rp juta)
PT Central Naga Europindo19,98151,837
PT Morante Jaya1,9005,282
PT Pusaka Prima Transport7,50220,011
PT Prima Sarijati Agung2,2295,201
PT Silver Bird7,67223,016
Sumber: Lapkeu emiten 


TIM RISET CNBC INDONESIA


Strategi Blue Bird di Era Disrupsi
[Gambas:Video CNBC]
(irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading